Pesan pada Obama dari Jantung Hutan Alam Asia Tenggara

Kompas.com - 13/11/2009, 08:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Saat Barack Obama bersiap mengunjungi Asia untuk pertama kali sebagai Presiden Amerika Serikat, sekitar 50 aktivis Greenpeace dari berbagai negara melakukan aksi di jantung hutan alam Indonesia yang terancam. Mereka mendesak Obama segera melakukan langkah nyata.

Kelompok aktivis ini membentangkan spanduk berukuran 20 x 30 meter di area hutan yang baru saja dirusak, bertuliskan: "Obama, Anda Bisa Menghentikan Ini." Aksi dilakukan di Semenanjung Kampar di Pulau Sumatera, tempat Greenpeace juga telah membangun Kamp Pembela Iklim (Climate Defenders Camp).

Mereka menuntut Obama mengambil kebijakan dan bekerja sama dengan para pemimpin negara lain untuk menghindari krisis iklim dengan cara menghentikan deforestasi, yang merupakan penyumbang seperlima emisi gas rumah kaca global.

Sementara itu, kelompok aktivis lainnya merantai tubuh mereka ke tujuh ekskavator milik Perusahaan Asia Pacific Resources International Holding Limited atau April - RGE, salah satu perusahaan kertas terbesar di Indonesia, untuk mencegah ekskavator itu menghancurkan hutan lebih jauh lagi.

Aksi ini terjadi pada Kamis (12/11), dua hari sebelum Obama bergabung dengan 20 kepala negara lain di Singapura dalam rangka Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) dan beberapa minggu sebelum para pemimpin dunia sepakat menghasilkan kesepakatan bersejarah untuk menghindari krisis iklim di Pertemuan Iklim PBB, Kopenhagen, Desember mendatang.

"Greenpeace mengirim pesan penting kepada Presiden Obama untuk melakukan langkah nyata dari garis depan kehancuran hutan dan iklim. Dia telah berjanji untuk melakukan langkah penting mengenai perubahan iklim, tetapi hingga beberapa minggu menjelang pertemuan iklim PBB Desember, pemerintahannya secara aktif menghalangi dan menunda negosiasi perubahan iklim global," ujar Rolf Skar, juru kampanye Hutan Greenpeace, Amerika Serikat.

"Sangat vital bahwa Obama dan para pemimpin dunia lain menghadiri Pertemuan Iklim PBB dan menyetujui perjanjian ambisius, adil, dan efektif yang di dalamnya terdapat penghentian perusakan hutan alam di seluruh dunia ini," ujanya.

Greenpeace memperkirakan bahwa untuk menghentikan perusakan hutan di seluruh dunia, dibutuhkan dana dari negara industri sebesar 42 miliar dollar AS per tahun untuk program perlindungan hutan. Jumlah ini lebih kecil dari yang diberikan Pemerintah Amerika Serikat kepada bank-bank individu dalam masa krisis finansial tahun lalu.

Perusakan hutan tropis dan lahan gambut di Indonesia mengakibatkan terlepasnya CO2 ke udara dalam jumlah sangat besar, membuat Indonesia tercatat sebagai negara penyumbang polusi terbesar ketiga di dunia setelah China dan Amerika Serikat. Aktivis juga membangun dam di kanal-kanal yang dibangun oleh perusahaan kertas untuk menyiapkan lahan perkebunan. Tindakan ini bertujuan untuk menghentikan pengeringan dan perusakan lahan gambut yang sangat kaya kandungan karbon.

Tanah gambut di kawasan ini menyimpan setidaknya dua miliar ton karbon yang akan terlepas ke udara jika hutan dihancurkan. Aktivis akan tetap bertahan di sana untuk melindungi hutan alam dan gambut hingga beberapa waktu ke depan.

"Presiden Yudhoyono baru-baru ini berkomitmen untuk mengurangi emisi dari deforestasi, dan Greenpeace berada di sini di jantung hutan tropis untuk membantunya mewujudkan janji itu menjadi aksi nyata," ujar juru kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, Bustar Maitar.

"Indonesia adalah kilometer nol perubahan iklim. Menghentikan perusakan hutan di sini dan seluruh dunia tidak hanya merupakan cara paling efektif dan hemat dalam memerangi perubahan iklim, tetapi juga sangat penting untuk mencegah bencana iklim di masa hidup kita," tambahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau