JAKARTA, KOMPAS.com — Peran situ sebagai penampung air atau pengendali banjir di kawasan seperti Jakarta dan sekitarnya justru dikhawatirkan menjadi sumber bencana banjir bandang. Hujan berintensitas tinggi dalam waktu pendek akan memberatkan beberapa situ, yang kondisinya terdegradasi, tua, dan kurang terawat.
”Kajian kami, setidaknya ada tiga situ dalam kondisi rawan tinggi bencana,” kata Asisten Deputi III Kementerian Negara Lingkungan Hidup Urusan Pengendalian Kerusakan Sungai dan Danau Antung D Radiansyah di Jakarta, Kamis (12/11). Ketiga situ tersebut adalah Situ Ciledug di Tangerang, Banten (11,4 hektar), Situ Parigi di Tangerang, Banten (5,2 hektar), dan Situ Rawakalong di Depok, Jawa Barat (8,4 hektar).
Di Situ Ciledug tanggul yang membatasi bibir situ dengan kawasan permukiman yang berada di bawahnya terdeteksi rapuh. Bagian tanggul lain menjadi pembatas situ dengan jalan raya yang ramai.
”Di Situ Parigi malah ada bocoran pada tanggul saluran buangan,” kata Antung. Kondisi itu mengingatkan pada kasus jebolnya Situ Gintung, Tangerang Selatan, akhir Maret 2009 lalu.
Data terakhir Kementerian Negara Lingkungan Hidup menunjukkan, jumlah situ di kawasan Jabodetabek mencapai 231 situ. Sebanyak 79 di antaranya rusak dan 19 situ yang lain hilang untuk peruntukan lain.
Situ hilang terbanyak berada di Provinsi Banten, yaitu dari 33 situ, 16 situ hilang. Situ dalam kondisi baik terbanyak berada di Kabupaten Bogor (40 situ dari total 79 situ).
Secara umum, lanjut Antung, kondisi situ-situ mengalami pendangkalan, penyempitan, dan menjadi tempat buangan sampah warga. Kerentanan situ juga disebabkan sifat hujan yang berintensitas tinggi dalam kurun waktu pendek.
Sementara itu, pembangunan situ pada awalnya dirancang untuk menampung hujan berintensitas sedang hingga tinggi dalam kurun waktu lebih panjang. ”Tanpa perawatan dan perbaikan kondisi, volume hujan akan jadi ancaman,” kata dia.
Beda peran
Mengacu pada definisi situ, danau kecil dengan luas di bawah 100 hektar, jumlah situ di Indonesia diperkirakan ribuan. Hanya saja, jumlah dan kondisi di luar Jawa tidak terpantau.
”Yang jelas, peran situ di Jawa dan luar Jawa sudah berbeda,” kata Antung. Situ atau embung di Jawa, khususnya di Jabodetabek, lebih ditekankan sebagai pengendali banjir.
Adapun peran situ/embung di luar Jawa lebih sebagai cadangan air untuk kebutuhan warga sehari-hari atau pertanian. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), misalnya, sedang dibangun ratusan embung dari perkiraan kebutuhan 2.300-an embung, baik sebagai sumber air bersih warga maupun irigasi (Kompas, 26/10/2007).
Status tidak jelas
Kondisi situ/embung yang tidak terawat, di antaranya, disebabkan oleh ketidakjelasan status pengelolaan. Itu pula yang menjelaskan hilangnya beberapa situ di Banten, yang dipahami sebagai milik yang bisa dialihfungsikan dengan mudah.
”Status lahan memang milik daerah, tetapi semestinya juga dijelaskan status pengelolaannya. Sesuai dengan UU sumber daya air, sumber air diatur sebagai milik negara,” kata Antung. Namun, hingga kini belum diatur secara jelas prosedur pengelolaan di lapangan.
Tanpa kejelasan status, tanggung jawab perawatan menjadi membingungkan. Kondisi tersebut juga terkait dengan penganggaran perawatan dan pemeliharaan.
Terkait dengan antisipasi bencana perairan, situ hanya salah satu yang harus dibenahi. Kondisi sungai di seluruh Indonesia menunjukkan kecenderungan terus terdegradasi.
Penghutanan kembali kawasan hulu sungai telah diperbincangkan lama antarsektor. Hingga kini tindak lanjut di lapangan belum juga terlihat. (GSA)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang