Adonan Roti Sudah Dicampur, Eeh Listrik Mati...

Kompas.com - 13/11/2009, 12:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Para pengusaha roti mengeluhkan pemadaman listrik yang sering terjadi beberapa hari terakhir ini. Akibat seringnya pemadaman listrik oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), pengusaha kehilangan hampir separuh penghasilannya.

Chris Hardijaya (48), seorang pengusaha roti, mengakui rugi jutaan rupiah per hari akibat pemadaman tersebut. "Jelas rugi. Yang industri besar saja rugi, apalagi yang kecil-kecil. Kan kita enggak punya genset. Paling tidak kerugiaannya Rp 1 juta lebih karena mati listrik," ujarnya kepada Kompas.com, Jumat (13/11) di Jakarta.

Chris menjelaskan, akibat mati listrik, pihaknya tidak bisa menerima pesanan karena produksinya menggunakan oven listrik. Padahal, ia juga harus menanggung ongkos operasional, air, dan upah sekitar 20 karyawan yang tidak bekerja saat produksi terhenti. "Pemasukan tidak ada, pengeluarannya jalan terus," ucapnya.

Menurut dia, kerugian yang lebih parah adalah produksi terhenti sehingga pesanan roti menjadi tertunda. Di samping itu, pemadaman listrik yang tanpa pemberitahuan sebelumnya ini membuat produksi roti menjadi tidak maksimal dan rusak sehingga tidak layak jual. "Saat adonannya sudah dicampur, terus mati listrik. Nah, ini kan jadi rusak, tidak bisa mengembang. Terus akhirnya cuma dibuang," keluhnya. Padahal, dia mengakui harga bahan baku roti terus melambung membuat beban industrinya semakin berat.

Dia hanya berharap, PLN segera merampungkan masalah kelistrikan sehingga tidak mengganggu jalannya industri kecil.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau