Dikira Yulianto, Yohanes Stres

Kompas.com - 13/11/2009, 16:40 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com — Warga Graha Family Blok D-170, Surabaya, Kho Yusac alias Yohanes (nama baptis), merasa tertekan karena dirinya disangka Yulianto yang disebut-sebut Ary Muladi dalam rekaman terkait kasus KPK-Polri.

"Saya bukan Yulianto yang dimaksud saudara Ary Muladi dalam perkara pemimpin KPK Bibit S Rianto dan Chandra M Chamzah. Saya sendiri tidak pernah memakai nama Yulianto," katanya di kediamannya, Jumat (13/11).

Dalam konferensi pers bersama kuasa hukumnya, Pieter Talaway,  SH, CN, MBA, ia mengemukakan hal itu terkait sangkaan bahwa dirinya adalah Yulianto yang menyerahkan uang sebesar Rp 5,1 miliar dari Anggodo Widjojo kepada pimpinan KPK.

Yohanes mengatakan, dirinya tidak kenal dan tidak pernah berhubungan dalam bentuk dan cara apa pun dengan Ary Muladi. Karena itu, dirinya bukanlah orang yang disebut-sebut Ary Muladi sebagai Yulianto itu.

"Karena itu, saya tidak terkait sama sekali dengan perkara menyangkut Anggoro Widjojo dan Anggodo Widjojo serta Bibit S Rianto dan Chandra M Chamzah," katanya.

Namun, dirinya mengenal Putranefo A Prayugo (Dirut PT Masaro Radiokom) yang kini menjadi tersangka dalam kasus korupsi Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT).

"Kenalnya juga hanya kenal saja, tidak ada hubungan bisnis apa pun," kata pengusaha jual beli tanah yang hobi memelihara anjing itu.

Senada dengan itu, kuasa hukumnya, Pieter Talaway, SH, CN, MBA, mengatakan, pihaknya akan mengusut pelaku yang mengeluarkan informasi.

"Saya akan membantu klien saya untuk melakukan tindakan hukum terhadap pelaku yang sengaja memanipulasi informasi dan menggunakan media massa untuk membunuh karakter klien saya, padahal klien saya bukan Yulianto," katanya.

Advokat senior itu menduga ada persaingan dagang dengan munculnya informasi yang mengaitkan kliennya dengan Yulianto, apalagi informasi yang muncul terkait kliennya yang disangka Yulianto itu tidak ada hubungan dengan korupsi.

"Saya mempunyai empat klien yang bernama Yulianto, tapi tidak ada persoalan apa-apa, sedangkan Pak Yohanes yang tidak punya nama Yulianto kok disebut-sebut sebagai Yulianto, tentu ada kepentingan di balik itu," katanya.

Sebelumnya, nama Yulianto juga muncul di Jalan Dharmahusada Indah, Surabaya, tetapi nama jalan yang disebutkan Ary Muladi sebagai alamat Yulianto itu ternyata tidak valid.

Para wartawan di Surabaya juga hanya menemukan seorang bernama Yulianto di Dharmahusada Indah, tetapi orang yang dicari-cari itu hanya seorang tukang klep.

Hingga kini, nama Yulianto masih misteri meski Ketua Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (IPHI) Jatim Henry Rusdijanto juga sempat melontarkan pernyataan bahwa Yulianto sekarang ada di Jakarta.

Namun, Ary Muladi meyakini Yulianto itu benar-benar ada. "Sosok Yulianto itu bertubuh atletis dengan alis mata lurus agak naik ke atas," katanya saat diperiksa Tim Delapan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau