Cita Rasa Dua Bangsa (1)

Kompas.com - 13/11/2009, 16:53 WIB

Sejak menulis di rubrik ini saya tak henti menerima e-mail dari para pembaca. Banyak pertanyaan diajukan pada saya. Salah satunya, bertanya tentang adaptasi terhadap makanan setempat. Apakah saya kesulitan memasak makanan Indonesia dan bila saya rindu dengan masakan kampung halaman bagaimana cara mengatasinya?

Saya mulai menetap di Perancis, tepatnya di kota Montpellier, Maret 2000. Baru menetap beberapa bulan saya dan suami sudah rindu berat dengan jajanan pinggir jalan ala Indonesia.

Namanya juga baru menetap, tentu saja kerinduan akan makanan tersebut mustahil kami wujudkan. Maka dengan berat hati saya meminta kepada ibu saya untuk mengirimkan berbagai bumbu masakan ke kota saya. Setiap kali menerima paket yang berisi kecap manis, mie instan hingga berbagai macam bumbu masakan, saya dan Kang Dadang merasa bagai menerima harta karun.

Itu dulu. Empat tahun belakangan ini saya tak lagi mengalami kesulitan mendapatkan bumbu masakan Indonesia. Karena, tak jauh dari tempat saya tinggal sudah ada supermarket mondial yang menyediakan berbagai macam keperluan bumbu dari berbagai dunia, salah satunya Indonesia. Segala rupa ada di sana mulai kecap manis, terasi, gula jawa hingga emping. Bahkan, makanan dan minuman khas Indonesia pun ada juga. Soal harga, bisa dibilang 10 hingga 20 kali lipat dari harga di Indonesia.

Jadi, kalau ditanya apa yang saya lakukan bila rindu masakan kampung halaman, hanya satu jawabnya: memasaknya sendiri. Apalagi di kota saya tak ada restoran Indonesia.

Dalam kesempatan kali ini saya ingin bercerita soal makanan, bukan soal memasaknya, tapi pernak pernik pengalaman saya mengenai perbedaan rasa lidah orang Perancis dengan lidah Indonesia.

Tahun 2001 kebetulan ayah saya mendapat undangan kongres di Genewa, Swiss. Karena Genewa tak jauh dari Perancis, maka mereka memutuskan sehabis acara di sana akan menginap di kediaman kami selama dua minggu. Sebelum berangkat, tentu saja, mereka menanyakan apa saja yang mereka bisa bawa untuk kami. Saya katakan, kalau memungkinkan saya ingin sekali makan “Ayam Mbok Berek” dan pete. Maklum saya dan suami penggemar berat pete.

Lalu ibu saya bertanya,

“Kamu mau dibawain durian enggak? Kalau mau nanti mamah bawain.”
“Gimana cara bawanya mah? Kan durian bau..! Nanti pasti ketahuan di airport, yang ada nanti mamah enggak boleh lewat loh,” jawab saya cemas.

Ibu saya meyakinkan, tak soal membawa durian. Gampang! Ia bercerita, tante saya yang dulu pernah tinggal di Tokyo, kalau kembali ke Jepang selalu bawa durian. Caranya, daging duriannya dibungkus dengan plastik tipis lalu di masukan dalam tupperware dan diberi kopi agar bau si durian tak tercium. Ok sajalah, akhirnya saya bilang.

Singkat cerita, saya dan Adam menyusul ke Genewa, itung-itung liburan juga. Kang Dadang memilih mengambil cuti saat mertuanya berada di kota kami nantinya. Lucu juga, malah orang tua saya yang menjemput kami di stasiun kereta Genewa. Saya bahagia sekali bisa bertemu karena sudah hampir setahun kami tak bersua. Mereka langsung mengajak kami berdua ke hotel tempat mereka menginap.

Alhamdulillah, ayah saya mendapatkan kamar yang dilengkapi dapur kecil. Berhubung sudah jam makan, ibu saya dengan semangatnya langsung mengeluarkan makanan bawaannya. Hmmm... ternyata ayam goreng pesanan saya benar-benar dibawanya. Dengan rice cooker kecil yang sengaja dibelinya ia menanak nasi bagi kami berempat. Nikmatnya...saat itu saya merasa bersyukur sekali. Orang tua saya mau susah payah membawa alat penanak nasi demi buah hatinya.

Durian

Selesai makan, bapak saya berujar, jangan lupa duriannya dimakan sebagai makanan penutup.

“Halah....,” cetus saya, “bapak sama mamah beneren nih bawain saya durian?”

Dari mesin pendingin dikeluarkanlah buah kegemaran saya itu. Tapi, ketika tupperware-nya dibuka, alamak!, bau sengak langsung tercium. Duriannya sudah fermentasi! Tak tega dengan jerih payah mereka membawakan buah kesukaan saya, tetap saya cicipi si buah empuk itu. Rasa asemnya sudah seperti cuka. Tak mungkin dimakan. Kasihan juga saya melihat kekecewaan di mata mereka. Tapi mau bilang apa.

Cilakanya, bau durian itu segera memenuhi seluruh kamar.

“Gawat,” kata ibu saya, “gimana dong nih!

Hanya ada satu cara: membuang durian dari hotel. Tapi, masalahnya, untuk melewati resepsionis dengan membawa durian yang harumnya bisa bikin geger orang bukanlah hal yang mudah.

Baru pada pukul 11 malam, saya dan ibu akhirnya berhasil keluar kamar dengan berlari karena si resepsionis sedang tak ada di tempat. Masalah belum selesai. Kami tak menemukan tempat sampah! Ibu saya ngedumel, “Negeri maju kok susah banget nemuin tempat sampah...”

Cukup jauh kami berjalan menembus udara dingin yang menggigit si tong sampah tak juga kami temui.  Akhirnya, mata saya tertumbuk pada tumpukan kayu dan semen di tengah jalan. Tumpukan tersebut menurut kami sisa dari perbaikan jalan. Karena sudah tak tahan kedinginan saya dan ibu memutuskan untuk menaruh buah durian bersama tumpukan tersebut. Mission accomplished. Kami kembali ke hotel.

Esok harinya kami berdua melewati tempat kami membuang durian itu. Bekas kayu dan semen sudah tak ada lagi di tempat, tapi kantong plastik durian kami masih tetap bercokol di sana. Aduhhh! Saya dan ibu saling pandang dan nyengir. Setelah agak jauh dari lokasi kejadian, saya terpingkal-pingkal memikirkan kenakalan yang kami lakukan. Saya bisa membayangkan, pasti orang yang membersihkan kayu dan semen tersebut mengira kantong plastik yang berisikan durian adalah kotoran, mengingat baunya yang menyengat.

Soal durian, itu cerita dulu. Kini durian bukan lagi barang langka. Pada tahun ketiga kami menemukan toko asia yang menjual durian montong segar. Biasanya kami membeli durian beku. Bisa dibayangkan betapa suka citanya saya dan Kang Dadang. Sayangnya, harga durian tersebut sering bikin kantong kami kempes, alias mahal!

Jangan kue

Suatu hari kami diundang jamuan makan siang di kediaman bos suami saya. Selain kami, tamu yang hadir adalah beberapa penulis dan pelukis. Ada juga yang datang dari kota lain. Biasanya, bila ada undangan makan kami selalu hadir dengan buah tangan. Bos Kang Dadang meminta kami datang dengan makanan penutup. Tapi, dia bilang jangan kue, bosan katanya.

Kang Dadang menawarkan, jika mau dia bisa membawakan buah sebagai pencuci mulut. Dan,  tidak tanggung-tanggung, yang ditawarkannya adalah durian. Tentu saja saya bilang idenya itu aneh bin ajaib. Karena setahu saya orang bule itu enggak ada yang suka sama si buah berasa surga ini. Suami saya bersikeras. “Ahh Dadang aja, pertama kali mencium durian langsung jatuh jatuh hati, apalagi pas makannya...hmmm nikmat bener..pasti mereka juga sama lah!”

Benar juga, pikir saya. Jadilah kami membawa durian sebagai buah pencuci mulut. Dua buah berduri kami bawakan sebagai buah tangan bagi tuan rumah. Para tamu yang hadir  terpesona melihat bentuk buah bulat besar dan berduri ini. Kami terangkan durian yang kami bawa sebenarnya bukan durian kampung dari Indonesia tapi durian montong dari Thailand, hanya soal rasa sama lah, kata saya.

Salah satu fotografer yang hadir tak henti mengabadikan buah itu dengan kameranya. Saya dan Kang Dadang tentu saja girang. Bawaan kami ternyata membuat orang terpesona dan menjadi bahan omongan selama jamuan makan. Bahkan mereka menyukai bau menyengat si durian. Berhasil! Itu yang terlintas dalam otak kami.

Saatnya cuci mulut. Dengan bangganya Kang Dadang membelah durian. Aksinya menjadi tontonan para tamu.

“Wow...bukanya saja dengan cara khusus ya?” celetuk seorang tamu.
“David (Dadang) kamu lihai sekali sih memegang buah itu, tidak sakitkah tangan kamu kena durinya?” yang lain menimpali.

Ketika buah durian terbelah para tamu berdecak kagum. Saya sampai bingung, mereka kagum beneran apa lebay, biasa aja kaleee...:) Saya berkata dalam hati, melihat bentuknya saja mereka sudah kagum, pasti mereka akan terpana dengan rasanya.

Tangan pertama yang mencomot buah durian adalah si fotografer yang sejak tadi sibuk memotret. “Akhhh...dagingnya lembek,” jeritnya spontan saat tangannya menyentuh buah durian.

Seorang penulis langsung kabur mencari air minum begitu daging durian menyentuh lidahnya.

Untung hanya dua orang saja yang berkelakukan agak berlebihan di mata saya. Selebihnya, mereka memakan buah bawaan kami. Tapi, saya sangat iba melihat tampang mereka yang seperti tersiksa. Tak ada suara yang keluar selama mereka mencicipi, mungkin bingung harus bilang apa. Suami saya bertanya, bagaimana apakah kalian menyukainya?

“Hmmm.. bagaimana ya, lembek sekali buahnya ya..” jawab isteri bos suami saya diiringi anggukan tamu lainnya.

“Rasanya sendiri bagaimana?” tanya Kang Dadang penasaran.
“Terus terang, yang menganggu saya adalah teksturnya yang lembek dan menempel di tangan serta di mulut...mengingatkan saya akan sesuatu...,” ia tak meneruskan kalimatnya yang mungkin dirasanya kurang sopan.

“Di Indonesia,” sahut Kang Dadang, “durian itu terkenal sebagai buah berbau dan berasa surga.” (entah dari mana ia dapat analogi surga).

“Wahhh, kalau surga baunya seperti ini penghuninya pada kabur dong ya?' cetus bosnya meledek. Tapi toh, akhirnya, dia mengakui jika rasa durian ini memang benar spesial dan legit.

Keesokan harinya, pulang dari kerja, suami saya bilang, bos dan beberapa tamu yang menginap akan mengeringkan kulit buah durian yang kami bawa untuk dijadikan pajangan. Ada-ada saja kata saya, kok ya kulit durian jadi pajangan. Dasar seniman!


(bersambung)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau