Kangen Inggris, Mourinho Ingin Membangun Klub

Kompas.com - 14/11/2009, 20:09 WIB

LONDON, KOMPAS.com - Setelah dua tahun meninggalkan Inggris, mantan pelatih Chelsea Jose Mourinho merasa kangen. Ia ingin kembali ke negara tersebut dan membangun sebuah klub dengan pondasi pemain yang kuat.

Mourinho yang kini melatih Inter Milan pernah menjadi pelatih paling sukses di Chelsea. Ia menjadi satu-satunya orang yang dapat mengantar "The Blues" juara Premier League. Tidak hanya sekali, tapi dua kali pada musim 2004/05 dan 2005/06. Selama tiga musim menangani John Terry cs, "The Pensioners" merajai Community Shield 2005, Piala FA 2007, Piala Carling 2005 dan 2007.

Semua kenangan indah itu berawal dari kedatangannya ke London barat pada Juni 2004. Ia membawa keluarganya ke sebuah rumah di Chelsea. Mereka pun langsung kerasan di ibu kota Inggris tersebut dan Mourinho merasa kondisi tersebut "membuat sesuatu lebih dalam". Karena itu, ia yakin bahwa Inggris adalah tempat yang pas untuk dirinya.

Di luar sikap dan omongannya yang sering menyinggung rival maupun pemainnya sendiri, Mourinho berharap dapat kembali ke Inggris dan membangun sebuah klub sesuai caranya sendiri. Tidak dijelaskan secara pasti, klub mana yang akan ia pilih jika suatu saat harus kembali ke Premier League. Namanya pernah dikait-kaitkan sebagai calon pengganti pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson, tapi Mourinho tak mau muluk-muluk menyamai rekor Ferguson di MU.

"Jelas tidak realistis jika berharap dapat bertahan di sebuah klub selama Sir Alex, tapi saya siap menjalani fase berikutnya dalam karier saya. Saya ingin bekerja dengan perspektif berbeda," kata Mourinho kepada The Times.

"Di Porto, tujuan saya adalah menang agar layak melatih di luar negeri. Di Chelsea, ambisi saya adalah menciptakan sejarah kecil (di klub yang tak pernah memenangi liga selama setengah abad). Namun, saya selalu tahu Chelsea kurang memiliki budaya stabilitas di Inggris," ujar pelatih asal Portugal tersebut.

Mourinho memang masih mencintai Chelsea. Namun, untuk kembali ke Stamford Bridge, rasanya tidak mungkin. Ia tahu bahwa pemilik "The Blues", Roman Abramovich, memiliki pandangan berbeda dalam membangun sebuah klub dan itu tidak sesuai dengan cita-citanya.

"Saya memahami kepribadian Roman dan budaya orang-orang di sekitarnya dan saya tahu itu bukan pekerjaan untuk sepuluh tahun. Peran saya adalah memberi orang ini sesuatu yang ia inginkan: kemenangan. Cepat atau lambat, waktu saya akan berakhir karena terlalu banyak hal terjadi di sekitar saya," ungkapnya.

Secara samar-samar, Mourinho menyatakan bahwa ia memang ingin melatih klub selama mungkin. Itu bisa dilakukan dengan cara membentuk klub tersebut mulai dari bibit-bibit pemain muda. Hal tersebut sedang ia lakukan di Inter, tapi Italia kurang cocok untuk metode seperti itu.

"Di Italia, saya datang ke tempat sumbernya taktik bola, negara catenaccio dan sepak bola defensif. Tujuannya untuk menang tidak hanya juara di tiga liga berbeda tapi di sebuah tempat di mana mereka bilang pelatih asing kurang sukses," ujar pelatih berjuluk "The Special One" itu.

"Saya cinta Inter dan ingin membangun masa depan di sini. Faktanya, saya melakukannya sekarang karena saya bukan pelatih egois dan saya memikirkan masa depan pengembangan pemain muda tapi Italia bukan negara untuk hal ini. Inggris negara untuk itu dan sepak bola saya adalah sepak bola Inggris," tegasnya.

Sampai saat ini belum ada klub Inggris yang terang-terangan ingin merekrut pelatih 46 tahun itu. Manchester City pernah disebut-sebut bakal menggaetnya, tapi sampai kini mereka masih setia mempertahankan Mark Hughes.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau