Mandela di Ambon?

Kompas.com - 14/11/2009, 20:35 WIB

AMBON, KOMPAS.com- Mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela belum bisa dipastikan dapat menghadiri perayaan Hari Perdamaian Dunia di Ambon, ibu kota Provinsi Maluku, 25 November 2009, terkait adanya perubahan jadwal untuk kegiatan itu. 

Presiden Komite Perdamaian Dunia, Djuyoto Suntani, Sabtu (14/11), mengatakan, pihaknya telah mengundang tokoh peraih hadiah Nobel itu untuk menghadiri perayaan di Ambon, tempat ditabuhnya gong Perdamaian Dunia oleh Presiden Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Awalnya, perayaan dijadwalkan pada 10 November 2009, tetapi karena bertepatan dengan Hari Pahlawan yang biasanya dipimpin Kepala Negara, kegiatan akhirnya ditangguhkan hingga 15, dan terakhir disetujui 25 November 2009.

Djuyoto mengatakan, pihaknya sedang melakukan konfirmasi ulang untuk mendapat kepastian mengenai kehadiran sang peraih hadiah Nobel Perdamaian pada 1993 itu.

"Terus terang, kehadiran Mandela yang kini telah berusia 91 tahun ke Ambon itu juga sangat tergantung perkembangan kesehatannya," katanya.

Tokoh internasional lainnya yang diundang antara lain Mohammad Yunus, pendiri Gramen Bank di Bangladesh yang menerima Nobel Perdamaian pada 2006. "Kami sangat mendambakan kehadiran dua tokoh yang peduli terhadap kemanusiaan, pascakonflik sosial di Ambon 1999, sehingga masyarakat di Maluku kembali dapat hidup berdampingan dengan damai," ujar Djuyoto.

Dia menambahkan para duta besar negara sahabat juga diundang ke Ambon, sehingga mereka bisa menyaksikan kondisi sesungguhnya tentang keamanan di ibu kota Provinsi Maluku, yang kini semakin kondusif.

"Kami harapkan setelah mereka menyaksikan kondisi keamanan Kota Ambon, maka para undangan dan duta besar bisa mensosialisasikannya di negara mereka masing-masing, sehingga para turis maupun investor tidak enggan datang ke Maluku," kata Djuyoto.

Dia mengatakan, dipilihnya Kota Ambon sebagai tuan rumah perayaan Hari Perdamaian Dunia, karena daerah ini punya pengalaman "pahit" yakni tragedi kemanusiaan sejak 1999 hingga 2004.

Lewat kegaiatan itu, pada gilirannya diharapkan dapat menggugah masyarakat Maluku untuk tidak mudah terprovokasi. Dengan demikian, tidak terulang lagi konflik sosial yang memanfaatkan simbol-simbol agama.

"Momentum ini diprogramkan agar Ambon menjadi tempat mulia, karena merupakan kota ’matahari terbit’ untuk menerangi dunia," kata Djuyoto.

Dia berharap melalui kegiatan ini Ambon bisa menjadi inspirasi untuk mewujudkan persaudaraan di Maluku, bahkan Indonesia dan dunia, demi terciptanya kedamaian antarsesama manusia.

"Orang Ambon khususnya, dan Maluku pada umumnya, harus bangga karena kegiatan ini tergolong langka, dan ini merupakan kehormatan dunia internasional. Karenanya, kita harus mampu menunjukan kedamaian dengan hidup berdampingan antarsesama secara harmonis dan saling menghormati," ujar Djuyoto.

Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu mengatakan, persiapan perayaan Hari Perdamaian Dunia sudah rampung dan tinggal pembenahan monumen untuk penempatan gong perdamaian yang telah tiba di Ambon pada 12 November 2009. 

Gong yang diberangkatkan dari Semarang, Jawa Tengah itu,  diterima Gubernur Maluku dari Menko Kesra, Agung Laksono, setelah sebelumnya diterima dari Asisten Bidang Perekonomian Setda Jateng, Eddy Sutanto, di Jepara, karena gong tersebut dibuat seniman setempat.

"Kami bangga karena Kota Ambon dipercayakan menjadi tuan rumah perayaan Hari Perdamaian Dunia, mengingat kegiatan sebelumnya dipusatkan di ibu kota negara penyelenggara. Kehormatan ini harus didukung semua komponen warga di Maluku dengan memelihara stabilitas keamanan," ujar gubernur.

Ketua panitia perayaan Hari Perdamaian Dunia di tingkat lokal Cak Saimima mengatakan, pencanangan kegiatan ini telah dilakukan Gubernur Ralahalu bertepatan dengan hari terakhir Ambon Jazz Festival Plus (AJFP) pada 11 Oktober 2009.

Saat Gong tiba di Bandara Internasional Pattimura itu, sempat disambut upacara adat oleh para latupati (para pemangku adat) dan tari lenso (terima tamu), selanjutnya akan diarak dengan budaya Nusantara ke lokasi monumen tempat dilangsungkannya kegiatan.

Gong pada Monumen Hari Perdamaian Dunia ditempatkan di bekas Taman Pelita, di pusat Kota Ambon. Kegiatan lain memeriahkan perayaan Hari Perdamaian Dunia adalah pesta Teluk Dalam Ambon, karnaval budaya, pameran dan seminar.

Pada puncak perayaan Hari Perdamaian Dunia juga akan lakukan pemberian gelar Upu Latu Ratmaran Siwalima (tokoh adat perdamaian tertinggi bagi pria) untuk Presiden SBY.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau