Dari Laan Holle sampai Sabang, Banjir Tidak Absen

Kompas.com - 15/11/2009, 04:54 WIB

KOMPAS.com - Banjir tidak pernah absen dari ruas jalan itu. Sejak masih menyandang nama Laan Holle hingga kini bernama Jalan H Agus Salim atau lebih dikenal dengan nama Jalan Sabang, genangan air segera mengumpul ketika hujan turun beberapa jam saja. Terakhir terjadi pada Jumat (13/11) sore hingga malam.

Sehari sebelumnya, Kamis, jalan ini pun tergenang. Tiga puluh menit setelah hujan lebat, genangan air membuat para pramuniaga toko segera sibuk mengangkati barang dagangan ke tempat yang lebih tinggi agar tidak basah.

Air yang semula menggenangi jalan akhirnya menyerbu masuk ke beberapa toko. ”Banjir sudah langganan di sini. Begitu hujan lebat turun, kami segera siap-siap mengungsikan barang ke tempat yang lebih tinggi. Tinggi air waktu hujan kemarin sampai 40 sentimeter di dalam toko. Kalau sudah hujan, kami pasti sibuk,” tutur Andri, pramuniaga toko Foto Bazar, Jumat.

Lantaran banjir, toko ini segera tutup setelah barang-barang dagangan ditempatkan di tempat yang lebih tinggi. ”Kalau toko sudah tutup, giliran kami yang mengungsi ke lantai dua karena di bawah sudah tergenang air,” ucap Andri lagi.

Sebagian pemilik toko di Sabang menyediakan lantai dua dan tiga untuk rumah. Saat hujan turun lebat, lantai atas menjadi tempat mengungsi pemilik serta karyawan toko.

Genangan air terutama terjadi mulai dari simpang empat Jalan Wahid Hasyim hingga sebelum toko busana Robinson, sepanjang sekitar 200 meter. Daerah ini terletak lebih rendah dari kawasan sekitarnya sehingga air mengumpul dan menggenang di situ.

Kendaraan mogok pun menjadi pemandangan yang biasa. Kendaraan yang memaksa masuk ke Sabang sering kali terjebak di tengah air dan mogok.

Sejak zaman Belanda

Mira Setiawan (78) tinggal di Sabang sejak jalan itu masih disebut Laan Holle. Mira lahir dan besar di kawasan ini. Orangtuanya dulu menjadikan lantai bawah rumah mereka sebagai toko bahan pokok. ”Tahun 1940-an, banyak rumah yang jadi supermarket. Lakunya minta ampun karena belum ada supermarket besar, apalagi mal,” kata Mira.

Supermarket itu kini telah berganti toko fotografi. Namun, ada satu hal yang tidak berubah hingga kini, yakni banjir. Kendati terletak di jantung ibu kota negara, kawasan ini rupanya belum bisa bebas dari banjir. Banjir sudah menjadi langganan, bahkan sejak zaman Belanda.

Rini (80) juga merasakan banjir sejak lama. Setelah pindah ke Laan Holle saat berumur 19 tahun, Rini akrab dengan banjir saat musim hujan.

”Apalagi rumah kami dulu lebih rendah dari jalan sehingga kalau banjir air pasti masuk ke dalam,” ucap Rini yang sejak dulu berjualan bahan pokok dan aneka kebutuhan sehari-hari.

Sekarang, bagian dalam rumah sudah ditinggikan sekitar setengah meter sehingga air tidak cepat masuk ke dalam rumah. Walaupun begitu, semua barang dagangan tetap harus diganjal dengan kotak-kotak plastik agar terhindar dari genangan air.

Rini mengatakan, dulu ada dua sungai yang kasatmata. Sungai mengapit jalan yang kini bernama Jalan Wahid Hasyim. Jika hujan lebat, air hujan sering meluber dari sungai. Namun, jika kering, anak-anak sering bermain di sungai itu karena airnya jernih dan dangkal. Saat ini kedua sungai yang memanjang sampai ke arah Sarinah itu sudah tidak tampak lagi karena dijadikan selokan tertutup.

Setelah pedagang kaki lima (PKL) marak berjualan di tepi-tepi Jalan Sabang, air yang masuk ke toko-toko pun semakin keruh. Mira mengatakan, aneka jenis sampah sisa dagangan, seperti tusuk sate dan daun pisang, ikut terbawa bersama air selokan. Baunya minta ampun karena semua sampah dan bekas cucian piring PKL ikut dibuang ke selokan.

Sekarang memang agak lumayan karena PKL berkurang setelah pemerintah menertibkan kawasan ini. Hanya banjir tidak berubah sedari dulu.

Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Pusat Agus Priyanto mengakui bahwa banjir di Sabang tidak mudah diatasi. Padahal, Pemkot Jakarta Pusat sudah menyiagakan pompa air di Gedung Jaya, Jalan MH Thamrin, untuk menyedot air dari Sabang.

Kiranya air dari Sabang macet di saluran air, lantaran rongga saluran yang sempit serta sampah bertumpuk. Sempitnya rongga saluran disebabkan rumitnya jaringan peralatan yang ada di bawah jalan. Selain jaringan PDAM, ada pula jaringan PLN dan Telkom yang tertanam di tanah. ”Mungkin sejak zaman Belanda,” ucap Agus.

Permasalahan ini kiranya perlu segera diatasi untuk menunjukkan ada kemajuan zaman kini dibandingkan masa lalu. Apalagi Sabang terletak di pusat kota yang juga menjadi cermin penataan Ibu Kota. (ART)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau