KOMPAS.com - "Listrik ibarat nyawa bagi saya," ujar Edi (33), perajin logam di Desa Pesarean, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, Minggu (15/11). Karena itu, ia mengaku sangat terganggu dengan pemadaman listrik bergilir yang terjadi beberapa waktu terakhir.
Setiap hari, Edi memproduksi alat pengaman regulator tabung kompor gas, dari bahan logam. Ia membutuhkan listrik untuk proses pengelasan dan pembentukan logam.
Akibat pemadaman listrik, ia dan tujuh karyawannya tidak dapat bekerja. Hal tersebut seperti terjadi pada Kamis pekan lalu, saat terjadi pemadaman di wilayahnya, mulai pukul 08.00 hingga 17.30.
"Akhirnya kami cuma njagong (duduk sambil berbincang-bincang)," katanya. Hal tersebut mereka lakukan, sembari menunggu listrik kembali menyala. Namun ternyata hingga selesai jam kerja, sekitar pukul 16.00, listrik tak kunjung menyala.
Akibatnya, produksi alat pengaman regulator terhambat. Padahal biasanya, dalam sehari ia mampu memproduksi paling sedikit 200 alat pengaman regulator. Alat tersebut dijual seharga Rp 14.000 per biji, ke wilayah Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Tegal. "Sehari rata-rata terjual 200 biji, makanya setiap hari saya targetkan harus selesai 200 biji pula," tutur Edi.
Selain kerugian produksi, ia masih harus menanggung biaya sosial bagi tenaga kerjanya. Sebagai pemilik usaha, ia tidak tega membiarkan karyawannya masuk kerja tanpa mendapatkan upah.
Selama ini, ia membayar karyawannya sesuai jumlah barang yang dikerjakan (sistem borongan), rata-rata senilai Rp 15.000 hingga Rp 25.000 per orang. Oleh karena itu meski tidak berproduksi, ia tetap menyediakan makan dan memberi uang saku kepada masing-masing karyawan senilai Rp 5.000 hingga 10.000 per orang.
Edi sangat berharap pemerintah membantu kesulitan pengusaha kecil, seperti dirinya. Setiap bulan, ia selalu memenuhi kewajiban membayar listrik tepat waktu, setiap tanggal 10. Rata-rata, biaya listrik yang ditanggungnya sekitar Rp 200.000 per bulan. "Ibaratnya meski saya kesulitan makan, kalau sudah waktunya saya utamakan untuk membayar listrik," tambahnya.
Keluhan juga disampaikan Mardiyah (45), perajin logam lainnya asal Desa Pesarean. Selama ini, ia membuat kotak pelindung meteran listrik. Aliran listrik digunakan dalam proses pengecatan kotak.
Akibat pemadaman, ia terpaksa menggunakan roda sepeda motor sebagai penggerak alat semprot cat. Meskipun demikian, hasil yang diperoleh tidak maksimal. Biasanya dengan menggunakan listrik, ia bisa men gecat 100 kotak dalam satu jam, namun dengan roda sepeda motor, hanya sekitar 50 kotak yang selesai dicat dalam kurun waktu yang sama.
"Akibatnya, waktu pengiriman barang ke konsumen mundur. Kemarin terpaksa lembur sampai malam, harus membayar biaya lembur juga," kata Mardiyah.
Jarohi (40), perajin logam lainnya juga mengaku rugi akibat pemadaman. Ia terpaksa mengganti waktu kerja yang hilang akibat pemadaman, dengan bekerja pada hari Minggu. Padahal biasanya pada hari Minggu, ia libur kerja. Hal tersebut ia lakukan agar tetap bisa memenuhi pesanan pelanggan.
Sebenarnya, perajin logam bisa mengganti listrik dengan genset. Namun sebagai pengusaha kecil, mereka tidak mampu membeli genset yang harganya sekitar Rp 15 juta. Selain itu menurut Jarohi, biaya operasional bahan bakar genset juga mahal, mencapai Rp 50.000 per hari. Sementara apabila menggunakan listrik, rata-rata biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 10.000 per hari.
Ia berharap, PLN tidak melakukan pemadaman bergilir. Apabila hal tersebut harus dilakukan, Jahori minta agar rencana pemadaman diberitahukan terlebih dahulu kepada konsumen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang