KOMPAS.com - Drama konflik Cicak versus Buaya tak pelak membuat masyarakat galau. Kebingungan atas drama perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi dengan Kepolisian RI itu dirasakan sebagian masyarakat Banyumas sebagai sebuah ironi, pemimpin yang mereka banggakan sekaligus mereka ragukan.
Kegalauan itu mereka wujudkan dalam Larung Buaya yang digelar di sebuah komplek pekuburan di Desa Pangebatan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, Minggu (15/11). "Alas sluku, sluku batok. Alas sluku, sluku batok," bait syair kuno yang dinyanyikan warga memulai ritual itu.
Ritual Larung Buaya tersebut diadakan oleh Padepokan Cowong Sewu dari Desa Pangebatan. Para seniman kesenian tradisional yang tergabung dalam padepokan itu mengawal ritual, dengan diikuti oleh puluhan warga desa setempat.
Sebelum melarung buaya dan cicak yang merupakan replika dibuat dari gabus, para seniman menggelar ritual buang sial dengan mengubur cowongan dari cumplung. Cowongan menyerupai boneka jalangkung yang umumnya digunakan sebagai perantara memanggil arwah untuk mendatangkan hujan.
Namun cowongan juga bisa dirasuki arwah jahat. Dalam ritual ini, arwah jahat itu merasuk ke dalam cowongan yang terbuat dari cumplung atau kelapa yang jatuh dari pohonnya tetapi sudah tak berisi.
Kegalauan dan kemarahan warga kemudian ditumpahkan dengan merusak cowongan dari cumplung. Ritual ini dipimpin oleh sesepuh Padepokan Cowong Sewu, Titut Edy Purwanto (44). Dengan dibantu seniman lain Jumadi dan Kampleng, Titut mengubur cowongan dari cumplung yang sudah dirusaknya.
Penguburan itu, menurut Titut, adalah untuk mengubur semua keburukan perilaku dan moral manusia yang mengemuka di Indonesia belakangan ini. Terlebih mereka adalah para pemimpin dan wakil rakyat Indonesia yang duduk di pemerintahan.
Selayaknya cowongan dari cumplung, katanya, menggambarkan pemimpin yang jahat dan serakah tetapi kosong akalnya. "Manusia apa belis sudah tidak jelas juga. Makanya semua pikiran jahat dan serakah harus dikubur," katanya.
Agar kondisi hubungan sosial masyarakat di Indonesia kembali harmonis, Titut mengatakan, setiap makhluk hidup harus kembali ke habitatnya masing-masing. Buaya kembali ke sungai, dan cicak kembali merayap ke tempat-tempat yang diinginkan.
Buaya kemudian dilarung ke Sungai Jengok yang berada di tepi komplek pekuburan. Sementara cicak dikembalikan agar dapat merayap di dinding kuburan Panembahan Kyai Sore yang merupakan sesepuh Desa Pangebatan.
"Ritual ini adalah simbol rakyat agar bisa hidup damai kembali," kata Titut.
Setiap pemimpin di pemerintahan pun, lanjutnya, tidak lagi saling menghasut dan memfitnah. Namun sebaliknya harus saling mendukung. "Indonesia ini negara makmur dan indah. Tetapi akan sangat disayangkan kalau pemimpinnya saling fitnah," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang