Berburu Air Zamzam untuk Dibawa Pulang

Kompas.com - 16/11/2009, 13:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Air zamzam memang menjadi oleh-oleh wajib bagi jemaah haji. Namun, pada musim haji memang tidak mudah untuk mendapatkan air zamzam tersebut. Jemaah harus menunggu dalam antrean yang panjang. Bahkan, tidak jarang juga terjadi saling serobot. Tidak heran jika kondisi ini sering menimbulkan kesempatan bagi sejumlah orang yang ingin mengais rezeki dengan menjual air zamzam pada jemaah haji.

Media Center Haji Departemen Agama di Jakarta, Senin (16/11), mengungkapkan, pemerintah Arab Saudi telah menutup sumber air itu dan sebagai gantinya dipasang keran yang diletakkan di berbagai penjuru di sekitar Masjidil Haram.

Kalau sekadar untuk minum, jemaah haji tidak ada kesulitan. Namun, yang amat merepotkan kalau jemaah hendak membawa pulang air zamzam tersebut. Pengisian jeriken harus dilakukan di tempat yang sudah ditentukan.

"Sekarang mengambil air zamzam di Masjidil Haram untuk dibawa pulang itu harus diambil di keran khusus yang disediakan salah satu gerbang ke Masjidil Haram, di Bab Ali. Ada dua tempat di satu lokasi itu. Satu untuk laki-laki dan lainnya khusus perempuan," demikian keterangan Media Center. Sayangnya, jumlah kerannya tidak banyak. Masing-masing hanya ada sepuluh keran. Itulah yang menyebabkan jemaah sering berebut. Kondisi itu dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin mengais rezeki. Mereka menjual air zamzam satu jeriken 10 liter seharga 10 riyal Saudi (Rp 25.000). Sedangkan satu jeriken 20 liter seharga 15 riyal Saudi (Rp 37.500). Banyak jemaah haji yang membeli air zamzam ke penjaja itu.

Namun, jemaah juga telah diimbau untuk berhati-hati. Dikhawatirkan ada orang yang menjual air zamzam palsu. Pemerintah Saudi sendiri sudah berkali-kali melakukan razia terhadap pedagang air zamzam ini. Sudah banyak air yang disita. Namun, setiap hari masih saja ada penjual air zamzam yang mencuri kesempatan.

Sebenarnya pemerintah Saudi juga menyediakan keran air zamzam yang lebih banyak, tetapi lokasinya cukup jauh dari Masjidil Haram, yaitu di Kudai. Lokasinya bersebelahan dengan terminal. Airnya sama-sama dari Masjidil Haram yang dialirkan lewat pipa bawah tanah.

Aliran air di Kudai ini cukup deras. Untuk mengisi satu jeriken 10 liter hanya butuh waktu dua menit. Karena itu, meski banyak warga Arab yang mengambil beberapa liter sekaligus, tak ada antrean. Sayang, waktunya dibatasi, hanya antara pukul 10.00-14.00. Lepas dari waktu yang ditentukan pagar ditutup petugas.

Di Kudai ini jumlah keran yang disediakan cukup banyak. Keran berderet-deret sepanjang sekitar 50 meter. Setiap hari banyak warga Mekkah yang mengambil air zamzam di tempat itu untuk kebutuhan minum keluarga. Namun, nyaris tidak ada jemaah haji yang mengambil air di sana. Sebagian besar karena jemaah haji tidak tahu lokasi ini, selain memang jaraknya cukup jauh dari Masjidil Haram maupun pondokan jemaah haji. Namun, kalau mau, sebetulnya jemaah mempunyai waktu yang cukup untuk menjangkau lokasi ini. Pilihannya terserah jemaah haji, mau rebutan atau ke tempat yang lokasinya jauh.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau