Harimau Langka Itu Mati di Kandang Ayam

Kompas.com - 16/11/2009, 16:31 WIB

TAPAK TUAN, KOMPAS.com — Seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) ditemukan mati di kandang ayam milik M Rajab (45), warga Desa Silolo Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan.

"Harimau berjenis kelamin betina itu ditemukan mati di dalam kandang ayam sekitar pukul 08.00 WIB. Warga menguburkan satwa dilindungi itu," kata Camat Pasie Raja H Rustam di Tapak Tuan, Senin (16/11).

Sebelum dikubur, satwa langka ini lebih dulu dibungkus kain putih. Penguburan tersebut juga disaksikan Kepala Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Safwan, petugas Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), dan Kepala Polsek Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan.

Diperkirakan, harimau yang memiliki panjang sekitar 99 cm, tinggi 62 cm, dan panjang ekor 52 cm itu masuk ke kandang ayam yang berada di belakang rumah M Rajab sekitar pukul 20.00.

Hewan yang hampir punah tersebut diduga tewas akibat kehabisan napas karena terlilit tali yang terdapat di dalam kandang ayam milik warga yang sehari-hari berprofesi sebagai petani itu.

"Untuk mencegah kemungkinan yang tidak diinginkan, harimau yang masih berusia muda itu dikubur di halaman rumah M Rajab," katanya.

Kepala KSDA Aceh Selatan Safwan mengatakan bahwa harimau itu tewas akibat kehabisan napas. Pihaknya telah melaporkan kejadian tersebut ke BKSDA Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

"Kami sudah melaporkan kejadian ini ke BKSDA provinsi dan diperkirakan masih ada satu harimau lagi yang berkeliaran di pinggiran Desa Silolo itu," katanya.

Selama dua bulan terakhir, gangguan harimau di daerah penghasil pala itu meningkat. Puluhan ternak telah dimangsa raja hutan.

Selain Desa Silolo, Kecamatan Pasie Raja, sejumlah desa lainnya, seperti Jambo Apha, Kecamatan Tapak Tuan, dan Desa Jambo Papeun, Kecamatan Meukek, harimau juga sempat turun ke permukiman.

Kepala Desa Jamboe Papeun Sasmin (44) mengatakan bahwa harimau telah memangsa lima kambing milik Tgk Syahabuddin, Tgk Anshari, dan M Nasir Nas, serta 39 ayam dan itik milik masyarakat lainnya.

"Warga melihat harimau di ladang ubi yang berada di dusun Kuta Batee yang berjarak sekitar satu kilometer dari permukiman penduduk. Sebenarnya warga sangat takut dan cemas untuk berkebun. Namum, aktivitas itu harus tetap dilaksanakan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari," kata Sasmin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau