JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden AS Barack Obama dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah sepakat untuk menghidupkan kembali program Korps Perdamaian (Peace Coprs) di Indonesia.
Program Korps Perdamaian, yang didirikan Presiden John F Kennedy tahun 1961, pernah menjalankan misinya di Indonesia pada tahun 1963 hingga 1965 dengan mengemban misi pendidikan, kesehatan, pertanian dan ketahanan pangan. Direktur Korps Perdamaian, Aaron S Williams, mengatakan, pihaknya sangat senang atas kesediaan Indonesia untuk menghidupkan kembali program tersebut. "Saya sangat menantikan kerja sama dengan pemerintah dan masyarakat Indonesia. Kerja sama ini akan mendorong masyarakat dari kedua pihak untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, terutama menyangkut bahasa Inggris," kata William.
Program pertama Korps Perdamaian di Indonesia ini dimulai pada pertengahan tahun 2010 dengan mendatangkan sejumlah guru bahasa Inggris dari AS untuk mengajar di berbagai SMU di Jakarta.
Duta Besar AS untuk Indonesia, Cameron Hume menyatakan, kedatangan para guru ke Indonesia dalam program Korps Perdamaian itu mencerminkan hubungan kedua negara semakin erat. "Selain membawa guru bahasa Inggris, anggota korps juga akan saling bertukar pikiran dengan mitranya di Indonesia dan mempromosikan masing-masing negaranya pada tingkat masyarakat ke masyarakat serta saling pengertian lintas budaya.
Sejak 48 tahun yang lalu Korps Perdamaian sudah menjalankan programnya dalam mempromosikan perdamaian dan persahabatan melalui kesempatan pelayanan masyarakat di luar negeri. Hingga saat ini lebih dari 7.500 sukarelawan yang berkecimpung di bidang pendidikan, kesehatan, pertanian dan ketahanan pangan sudah bekerja di 75 negara dunia, dan Indonesia akan menjadi negara ke 76. "Dalam dunia yang terus berubah, para sukarelawan ini akan menghadapi berbagai tantangan baru dengan inovasi, kreativitas, keinginan dan kesabaran," kata Dubes Humme.
Menurutnya, sukarelawan yang akan bekerja di dalam program Korps Perdamaian ini mencerminkan keberagaman ras, etnis, usia dan agama di Amerika Serikat yang memiliki berbagai kemampuan dan prespektif yang unik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang