Tana Beru, Kompas -
Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara dan Kompas saat ini ada di Tana Beru sebelum melanjutkan perjalanan ke Pulau Selayar.
Safrudin (35), tukang perahu yang sedang menyelesaikan pinisi berbobot 50 ton, mengatakan, kiriman kayu sekarang sulit didapat. ”Katanya karena ada operasi illegal logging. Padahal, kayu merupakan bahan baku kapal tradisional Tana Beru,” kata Safrudin.
Bachri (33), putra Haji Jafar (73), tokoh masyarakat setempat, mengemukakan, akibat bahan baku kurang, sebagian perajin kapal ada yang pindah ke daerah lain. Ada yang pindah ke
Beberapa lokasi ”batilang” , yaitu galangan kapal tradisional, di pantai Tana Beru, saat ini dalam kondisi kosong tidak ada kegiatan.
Warga menggunakan kayu Besi asal Sultra atau Kalimantan untuk lunas kapal. Perajin menggunakan kayu biti asal daerah setempat untuk rangka kapal dan kulit kayu dari Kalimantan untuk mencegah kebocoran kapal.
Sejumlah warga masih menyelesaikan kapal pesanan asing, seperti pinisi yang dipesan warga Singapura untuk wisata laut Singapura-Malaysia. Sebuah pinisi milik warga Belanda yang digunakan di Thailand juga sedang diperbaiki di Tana Beru.
Sri, pemilik warung di Tana Beru, mengaku, warung baksonya sepi karena bisnis pembuatan kapal tidak seramai biasanya. ”Kalau pembuatan kapal ramai, warung pasti penuh,” katanya.
Galangan kapal Tana Beru membuat kapal yang dilayarkan hingga ke Eropa, Amerika Serikat, dan Afrika.