Praktik Bahasa dengan Obama

Kompas.com - 17/11/2009, 06:25 WIB

SHANGHAI, KOMPAS.com - Mempraktikkan bahasa asing dengan penutur asli memang sangat menyenangkan. Apalagi yang diajak berbincang- bincang adalah Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Para mahasiswa di Shanghai, China, dengan antusias bertanya kepada Obama dengan bahasa Inggris yang bagus.

Maaf sekali, bahasa China saya tidak sebaik bahasa Inggris Anda, tetapi saya mengharapkan kesempatan ini untuk dapat berdialog,” ujar Obama ketika mengawali kunjungannya ke China kemarin. Obama sempat berbicara dalam bahasa China sepatah dua patah kata sembari mengecek kebenaran pelafalan kata-kata itu dengan Duta Besar AS untuk China Jon Huntsman.

Tidak hanya mahasiswa, Dubes AS untuk China juga mempergunakan kesempatan ini untuk mempraktikkan bahasa Chinanya. Didampingi seorang mantan misionaris Mormon untuk Taiwan, mereka berdua memperkenalkan Obama kepada para mahasiswa dengan bahasa China yang lancar.

”Saya tidak mengerti apa yang mereka katakan, tetapi saya harap mereka mengatakan hal-hal yang baik,” ujar Obama sambil tertawa.

Para mahasiswa itu menanyakan berbagai macam hal kepada Obama, termasuk hal-hal yang agak sensitif, seperti sensor pada internet yang belum lama ini diperkenalkan di China, kepemimpinan global, serta isu mengenai Taiwan.

Obama menjawab pertanyaan itu menggunakan bahasa Inggris diikuti penjelasan penerjemah ke dalam bahasa China sehingga para mahasiswa dapat memahami pernyataan Obama.

Obama yang pernah menjadi seorang dosen itu mengatur penanya dengan adil. ”Saya akan menjawab pertanyaan dari mahasiswa laki-laki, kemudian dari mahasiswa perempuan. Demikian seterusnya sehingga adil,” katanya. ”Bagaimana, setuju. Saya akan mulai dengan gadis yang berada di depan,” lanjutnya. Ketika berkampanye, Obama juga menggunakan cara seperti ini untuk menjawab pertanyaan dari peserta.

Soal Internet

Ketika menjawab tentang penyensoran internet yang dilakukan Pemerintah China, Obama mengatakan, internet seharusnya terbuka. Dia juga mengakui dirinya bukan pengguna jejaring sosial Twitter.

”Saya selalu mendukung penggunaan internet secara terbuka. Saya pendukung internet tanpa sensor. Saya rasa semakin bebas arus informasi, semakin kuat pula masyarakat,” ujarnya lagi.

”Saya tidak pernah menggunakan Twitter. Saya tahu bahwa orang-orang muda sekarang ini sangat sibuk mengetik segala sesuatu mengenai hidup mereka pada perlengkapan elektronik. Kedua jempol saya ini terlalu kagok mengetik sesuatu di telepon,” ujar Obama sambil bercanda.

Sejauh ini, ada 1,5 juta orang menjadi pengikut Twitter resmi Gedung Putih dan 2,7 juta orang mengikuti akun politik Barack Obama. Obama juga mengatakan, saat ini ratusan ribu orang di dunia dapat mengikuti apa yang terjadi di Gedung Putih melalui situs Gedung Putih maupun jejaring sosial, seperti Facebook. Twitter resmi Gedung Putih bahkan menuliskan dalam akun Twitter-nya : ”Saksikan Presiden Barack Obama Menjawab Pertanyaan Para Mahasiswa China dan di Web”.

Ada lagi pertanyaan soal beda kultur. AS seharusnya tidak memaksakan kehendak dan pandangannya terhadap China. Obama menjawab, AS percaya ada prinsip-prinsip fundamental yang ada pada semua orang tanpa ada hambatan kultur.

Bertemu saudaranya

Dalam kunjungannya ke negara Tirai Bambu itu, Obama bertemu dengan saudara seayahnya, Mark Ndesandjo. Ndesandjo dan istrinya yang orang China sudah berada di Beijing dari rumahnya di Shenzen sejak akhir pekan lalu.

Ndesandjo mengatakan kepada kantor berita China, Xinhua, bahwa dia ingin memperkenalkan istrinya yang berasal dari Provinsi Henan kepada Obama. ”Istri saya pengagum berat Obama,” ujar Ndesandjo, anak ayah Obama dengan istri ketiganya, Ruth Nidesand.

Ndesandjo telah tujuh tahun tinggal di China dan lancar berbahasa China.

”Saya hendak mengatakan kepada saudara saya dan rakyat AS agar memandang China sebagai saudara,” ujarnya beberapa waktu lalu ketika Obama terpilih.

(AP/AFP/joe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau