JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI) Faisal Basri menyayangkan sikap DPR yang lebih memikirkan untuk menginisiasi angket Century (kini Bank Mutiara) dibandingkan mengajukan angket soal kesepakatan perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) yang bakal diterapkan mulai 1 Januari 2010 mendatang.
Padahal, menurut Faisal, penerapan FTA ASEAN-China akan membawa kerugian yang lebih besar dibandingkan kerugian yang diakibatkan oleh kasus dana talangan (bailot) Bank Century yang hanya sebesar Rp 6,7 triliun.
"Karena kalau FTA ini kan ruginya tidak hanya Rp 6 triliun saja seperti Bank Century. Tetapi ini ratusan ribu pegawai bisa terancam tidak bekerja. Harusnya yang begini-begini ini yang dijadikan hak angket. Jangan hanya Century," tutur Faisal, di sela-sela Seminar Kebijakan FTA ASEAN-China, di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa ( 17/11 ) .
Ia mengatakan, saat ini Indonesia belum siap menghadapi perdagangan bebas karena memiliki daya saing yang rendah. Berdasarkan catatan International Instititute for Management Development dalam World Competitiveness Yearbook 2006-2008 menyebut daya saing Indonesia semakin merosot hingga ke peringkat 52 dari 55 negara. Sumber lain versi World Economic Forum menunjukkan daya saing Indonesia berada di posisi 54 atau lebih rendah dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Thailand. "Gimana mau bersaing kalau daya saing kita saja menempati posisi nomer 2 dari belakang," cetusnya.
Dikhawatirkan, penerapan FTA ASEAN-China ini akan menghancurkan industri nasional dan memunculkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara besar-besaran. Pasalnya, dengan diterapkannya FTA, maka biaya masuk impor menjadi 0 persen sehingga barang-barang China akan menyerbu Indonesia. "Ini akan mengancam industri kita karena produk China yang terkenal murah akan menjadi saingan terberat produk kita," tandasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang