WASHINGTON, KOMPAS.com — CIA telah memberikan ratusan juta dollar kepada dinas mata-mata Pakistan, termasuk pembayaran untuk penangkapan atau pembunuhan gerilyawan yang dicari. Demikian laporan sebuah surat kabar AS yang mengutip sejumlah pejabat dan bekas pejabat yang tak disebutkan namanya.
Bantuan keuangan CIA itu, menurut Los Angeles Times, Minggu (15/11), tercatat sebanyak sepertiga dari anggaran badan mata-mata Inter-Services Intelligence (ISI) Pakistan. Ketika dihubungi AFP, Senin (16/11), CIA menolak untuk mengomentari laporan tersebut.
"Program gelap yang memberikan hadiah pada ISI itu telah mendorong perdebatan sengit dalam pemerintah AS," kata beberapa pejabat pada surat kabar tersebut, karena ISI diduga tetap memelihara hubungan dan memberikan dukungan pada Taliban dan kelompok gerilyawan lainnya di Afganistan.
Menurut laporan itu, pembayaran pertama-tama disetujui oleh mantan Presiden George W Bush dan diteruskan pada masa Presiden Barack Obama. Dibanding besarnya jumlah bantuan militer dan sipil pada Pakistan yang diumumkan secara terbuka, kata beberapa pejabat CIA pada surat kabar tersebut, pembayaran mereka murah sekali.
"Mereka memberi kami 600 hingga 700 dollar untuk orang yang tertangkap atau tewas," kata seorang pejabat CIA yang bekerja dengan Pakistan seperti yang dikutip koran itu. "Menurunkan orang-orang itu di jalan adalah hal yang baik, dan itu tabungan besar bagi pembayar pajak (AS)."
Pejabat intelijen lainnya menyatakan, Pakistan telah memberi sumbangan besar pada antiterorisme. ISI telah menggunakan sebagian dari dana itu untuk membangun markas besar baru, ketika Washington mengkhawatirkan bahwa markas lama rentan pada serangan, tulis surat kabar tersebut.
Sebagai indikasi hubungan dekat dengan dinas mata-mata Pakistan itu, CIA secara tetap telah mengundang agen ISI ke fasilitas latihan rahasia di North Carolina. Sejumlah pejabat penting AS, termasuk Laksamana Mike Mullen, pemimpin kepala staf gabungan, secara terbuka telah menyuarakan kekhawatiran pada awal tahun ini menyangkut dugaan hubungan ISI dengan Taliban.
Pakistan telah beralih dari pendukung utama Taliban menjadi sekutu AS setelah serangan 11 September 2001. Namun, ISI telah lama menghadapi tuduhan pembangkangan terhadap perintah pemerintah Pakistan dan menyalurkan dukungan pada Taliban sebagai pembalasan atas musuh lama Pakistan, India, yang mempererat hubungan bersahabat dengan pemerintah Kabul.
Pada saat Perang Dingin, ISI bekerja dengan CIA untuk mempersenjatai kelompok Islam yang memerangi pasukan Soviet di Afganistan. ISI kemudian mendukung Taliban, yang menerapkan pemerintahan Islam yang keras di negara yang dirusak perang itu. Media AS sebelumnya melaporkan bahwa para pejabat Amerika telah menemukan bukti bahwa mata-mata ISI telah diberi uang, pasokan militer, dan bahkan perencanaan strategis terhadap para komandan Taliban di Afganistan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang