Taliban Kini Bertaktik Gerilya

Kompas.com - 18/11/2009, 07:06 WIB

ISLAMABAD, KOMPAS.com - Berbulan-bulan setelah digelar operasi besar-besaran melawan gerilyawan garis keras di wilayah Waziristan Selatan, yang berbatasan dengan Afganistan, militer Pakistan menyadari bahwa mereka hanya mengejar bayang-bayang. Musuh yang mereka cari seperti hilang ditelan bumi.

Para gerilyawan garis keras yang dikomandoi Taliban Pakistan atau Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP)—yang semula tidak gentar bertarung langsung dengan militer Pakistan—kini mengubah taktiknya untuk bisa menggelar perang gerilya berjangka waktu lama.

Demikian ditulis Syed Saleem Shahzad dalam Asia Times online, Selasa (17/11).

Semula TTP menganggap militer Pakistan sekadar ”menembaki mereka sebagai teman” karena tekanan AS. Akan tetapi, seiring dengan kerasnya tekanan AS dan semakin terlihatnya kerja sama intelijen antara Pakistan (ISI) dan AS (CIA), pandangan terhadap militer Pakistan pun berubah. TTP pun benar-benar menganggap militer dan aparat-aparat keamanan Pakistan sebagai musuh, sehingga semakin sering dijadikan target serangan mereka.

Dari Quetta, ibu kota Provinsi Blochistan, di barat daya Pakistan, kemarin dilaporkan ada sebuah bom yang ditujukan kepada Kepala Kepolisian Quetta, Shahid Nizam Durrani, tetapi tidak melukai targetnya. Petugas polisi Mohammed Zaman menjelaskan, bom yang diledakkan ketika mobil Durrani lewat itu menewaskan satu orang dan melukai enam lainnya.

Kemarin gerilyawan Taliban juga meledakkan sebuah sekolah perempuan di Distrik Khyber, yang merupakan serangan sejenis ketiga kalinya di wilayah yang berbatasan dengan Afganistan itu sepanjang bulan ini.

Serangan dilakukan malam hari sehingga tidak menimbulkan korban. Akan tetapi, sekolah di Desa Yousaf Kely, dekat kota Bara, sekitar 20 kilometer sebelah selatan Peshawar, itu rusak berat sehingga tidak bisa digunakan.

Tiru taktik militer

Para gerilyawan TTP pada kenyataannya meniru taktik yang digunakan militer Pakistan, saat mereka menghadapi tentara India terkait konflik di wilayah Kashmir.

Taktik itu adalah menarik mundur pasukan dari daerah tempat operasi militer digelar, dengan menyisakan sedikit sekali anggota untuk sekadar melayani baku tembak. Mereka kemudian membangun kekuatan kembali di wilayah-wilayah yang kosong dari kekuatan aparat keamanan Pakistan kemudian mengoordinasikan serangan dari basis yang baru tersebut.

”Gerilyawan menerapkan strategi yang dilatihkan kepada mereka, yang digunakan oleh pasukan keamanan Pakistan dalam melawan Angkatan Darat India di Kashmir sekitar tahun 1990,” kata seorang perwira senior Pakistan.

Dia menambahkan, polanya sama, yaitu tidak melayani tentara saat mereka dimobilisasi. Mereka menghindar dengan membuka front baru di tempat lain, yang jauh dari konsentrasi militer Pakistan.

Operasi Angkatan Darat Pakistan di Waziristan Selatan pernah cukup berhasil di wilayah Malakand serta wilayah suku-suku Bajaur dan Mohmand. Akan tetapi setelah itu, para gerilyawan yang dipimpin Ibn-i-Amin, mantan komandan Jaish-e- Mohammad, mengatur para pengikutnya untuk menyebar ke wilayah Chitral dan kemudian menyeberangi perbatasan masuk ke Provinsi Nuristan, Afganistan, yang mutlak dikuasai Taliban.

Upaya pasukan khusus mengejar mereka tidak membuatkan hasil karena para pemimpin TTP sudah bergeser ke Waziristan Utara. Mereka kemudian menyatukan kembali kelompoknya di Bajaur dan Mohmand, juga Orakzai dan Dara Adam Khel. Dari situlah mereka kemudian melancarkan gelombang serangan mematikan ke Peshawar dan sekitarnya.

Atas tekanan AS, militer Pakistan kini bersiap memasuki Waziristan Utara, yang diyakini menjadi salah satu markas Al Qaeda. Wilayah ini menjadi tempat beroperasinya jaringan pemberontak yang sangat berbahaya, yang dikenal dengan sebutan kelompok Haqqani dan Hafiz Gul Bahadur.

Mengetahui militer Pakistan akan fokus di Warizistan Utara, gerilyawan TTP pun berkonsentrasi menghukum militer Pakistan di banyak tempat. Serangan ke markas ISI di Peshawar adalah salah satu hasilnya.

TTP mengetahui adanya kerja sama ISI dengan AS. Apalagi ISI telah membentuk sel antiteroris yang berkoordinasi langsung dengan Biro Penyelidik Federal AS (FBI) dan CIA.

Dengan kondisi seperti ini, perang antara Pakistan dan TTP tidak terhindarkan bahkan semakin meluas dan berdarah. Serangan terhadap markas ISI di Peshawar dan Lahore, menurut informasi yang diperoleh Asia Times Online, justru dilakukan para gerilyawan yang pernah diinterogasi bersama oleh personel Pakistan dan AS.

Perkembangan ini membuat Pakistan akan menjadi medan perang besar tak ubahnya Afganistan. (AP/AFP/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau