Wapres Bertemu Sekjen FAO dan Direktur Eksekutif WFP

Kompas.com - 18/11/2009, 19:22 WIB

ROMA, KOMPAS.com - Di sela-sela menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Ketahanan Pangan Dunia (World Food Summit), Wapres Boediono, tak hanya menemui Sekretaris Jenderal Organisasi Pangan Dunia (Food Agriculture Organisarion/FAO) Jacques Diouf. Akan tetapi, juga menemui  Direktur Eksekutif World Food Program (WFP) Jossete Sheeran.

Pertemuan dilakukan di markas besar FAO di San Moreno, pusat kota Roma, Italia, Rabu (18/11) siang waktu setempat.

Karena kedua pertemuan itu tertutup, belum diperoleh informasi mengenai hasil pembicaraan. Boediono hanya tersenyum saat disapa pers yang menyertai kunjungannya ketika akan bertemu dengan Jossete Sheeran. Dari informasi yang diterima Kompas, Boediono akan membahas upaya mengatasi krisis pangan dunia dari sudut pandang dunia.

WFP merupakan organisasi program bantuan tanggap darurat yang dibentuk Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tahun 1963. Badan ini memiliki perwakilan di 80 negara yang aktif memberikan bantuannya ke wilayah-wilayah konflik, transisi dan rawan pangan.

Dalam pertemuan itu, Boediono hanya didampingi Menteri Pertanian Suswono dan Duta Besar RI di Italia Mohammad Omar serta Sekretaris Wapres Tursandi Alwi.

Dari laporan FAO, hingga saat ini tercatat masih ada sekitar 1 miliar lagi manusia di muka bumi ini yang masih menderita kelaparan. Padahal, target FAO sebagaimana dituangkan dalam Millenium, Development Goals (MDGs) pada  tahun 2015, masyarakat dunia  tidak boleh lagi ada kelaparan dan kekurangan nutrisi.

Menurut laporan tertulis Jossete Sheeran, untuk mengatasi krisis pangan dunia, WFP setiap tahunnya mengirimkan makanan dan nutrisi tambahan melalui 5.000 truk, 70 pesawat terbang dan 30 kapal laut ke berbagai belahan dunia yang penduduknya masih kelaparan.

Sebanyak 1 miliar manusia di muka bumi yang kesulitan mendapatkan makanan itu, termasuk juga anak-anak dan bayi yang harus dibantu makanan dan nutrisis tambahan, penderitaan akibat konflik, menderita penyakit TBC, kolera, dan kematian bayi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau