Perjanjian Pranikah yang Perlu Dilakukan Pasangan

Kompas.com - 19/11/2009, 14:17 WIB

KOMPAS.com - Hm... siapa bilang perjanjian pranikah harus selalu menyangkut harta gono-gini? Untuk kita, ada 4 jenis perjanjian yang bisa dibuat ketika Anda berencana menikah dengan pasangan. Perjanjian ini sebaiknya memang disepakati sebelum Anda menikah, karena bila Anda menunggu setelah menikah dan terjadi konflik antara Anda dan pasangan, bisa jadi akan lebih sulit untuk mencari jalan keluarnya. Lebih baik melakukan pencegahan sebelum terjadi musibah, bukan? Nah, ini dia yang perlu Anda diskusikan dengan pasangan. Tentu saja, tidak menutup kemungkinan bila Anda dan pasangan memiliki perjanjian lain di luar yang disebutkan di bawah ini.

Siapa yang mengelola keuangan? 
Jika Anda memasuki suatu hubungan perkawinan dengan pengelolaan uang yang kacau, tak lama lagi Anda akan menghadapi argumentasi yang terus-menerus dengan pasangan. Topiknya, "Kamu beli apa lagi?" atau "Kamu investasi berapa di situ?". Selanjutnya, Anda akan terus bertengkar mengenai siapa yang bersalah sehingga Anda tidak dapat membayar tagihan-tagihan atau menabung.

Taffy Wagner, pakar finansial dan CEO of MoneyTalkMatters.com, menyarankan agar pasangan berbicara jujur mengenai kondisi keuangan sejak awal. “Tanyakan satu sama lain: bagaimana Anda mengelola keuangan ketika Anda masih lajang? Apa kesalahan-kesalahan yang pernah Anda buat, dan apa langkah-langkah Anda yang tepat?" Kemudian, tentukan siapa yang akan menjadi "bendahara" utamanya. Sebagai bendahara rumah tangga, Anda tak bisa mengambil langkah diam-diam. Selalu libatkan pasangan dalam langkah-langkah yang akan Anda ambil. 

Agama apa yang akan dianut?
Pertanyaan ini penting untuk pasangan yang berbeda keyakinan. Sungguh tidak mudah membahas masalah ini, karena menyangkut iman seseorang kepada Yang di Atas, bukan? Perbedaan itu mungkin tidak begitu penting di antara Anda dan pasangan, namun belum tentu tidak penting untuk keluarga besar masing-masing. Kemudian, bagaimana kelak bila memiliki anak? Apakah Anda akan mendidik anak sesuai keyakinan Anda, atau keyakinan suami?

Yang perlu Anda ingat, tidak ada agama yang mengajarkan kita untuk memaksakan orang lain mengikuti agama kita. Bila salah satu memutuskan untuk mengubah keyakinannya, pastikan bahwa hal itu merupakan keinginan dan keputusannya sendiri. Bila si dia, misalnya, adalah pria yang menganut ajarannya dengan taat dan hal ini tercermin dalam perilakunya sehari-hari, untuk apa memintanya mengikuti keyakinan kita? 

Kapan kita akan memiliki anak? 
Di Indonesia sudah mulai ada pasangan yang sepakat untuk tidak memiliki anak. Boleh saja jika keputusan ini disepakati kedua belah pihak. Namun bila Anda dan pasangan berencana mempunyai anak pun, tetap harus didiskusikan kapan rencana ini akan dilaksanakan. Anda mungkin tak akan tahu bahwa pasangan ternyata belum siap. Menurut Susan Piver, penulis The Hard Questions: 100 Essential Questions to Ask Before You Say “I Do”, ternyata banyak pasangan yang tak mendiskusikan hal ini. “Mereka baru mengetahui belakangan, entah salah satu tidak ingin memiliki anak, atau tidak mempunyai rencana waktu yang sama."

Topik mengenai anak bukanlah sesuatu yang mudah disampaikan. Karena itu Piver menyarankan agar pasangan membicarakannya ketika sedang santai dan siap berdialog. Bila menyangkut kapan akan hamil, mintalah alasan pasangan mengapa masih ingin menunda kehamilan, atau mengapa ingin segera melaksanakannya. Pastikan bahwa tujuan dialog ini untuk menyampaikan pandangan Anda, bukan memenangkan argumentasi.

Kehidupan seks seperti apa yang Anda inginkan?
Seks adalah hal yang penting dalam perkawinan, meskipun bukan yang terpenting. Suami mungkin tak akan protes bila Anda selalu mengeluh kelelahan atau tidak mood, namun, Anda tak akan tahu bagaimana reaksinya dengan penolakan tersebut. Sejak awal perkawinan, Anda harus membicarakan hal ini dengan suami. Bila salah satu dari Anda mempunyai harapan yang berbeda dalam masalah seks, apa yang harus dilakukan. 

Untuk mengangkat masalah ini, Anda bisa mulai dari hal yang paling sederhana. Pentingkah untuk selalu bersikap mesra dengan pasangan? Setelah itu, berikan usul seperti, "Kita harus gandengan tangan terus meskipun anak-anak kita sudah besar-besar." Atau, cium suami setiap kali ia akan berangkat ke kantor. Jangan lupa, cinta itu harus selalu dirawat agar tetap tumbuh segar.

Anda sendiri, adakah perjanjian khusus yang dilakukan dengan suami saat menikah?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau