Pemkab Bandung Gagal Jalankan Program Filariasis

Kompas.com - 19/11/2009, 19:35 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dinilai gagal menjalankan program pengobatan massal filariasis (penyakit kaki gajah) di daerah ini, demikian evaluasi Komisi D, DPRD Kabupaten Bandung.

Komisi D melihat pengobatan massal terkesan tergesa-gesa sehingga pelaksanaannya menelan banyak korban, dan proses sosialiasi pun dinilai tidak berjalan optimal.

"Ini yang kemudian menyebabkan korban yang begitu banyak. Yang harus bertanggungjawab dalam hal ini, semua pihak yang merencanakan dan melaksanakan kegiatan ini," ujar Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bandung, Arifin Sobari, Kamis (19/11).

Tanggungjawab secara umum, elas ada di tangan bupati. Sementara tanggung jawab pelaksanaan ada pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung.

Berkaitan dengan hal itu, Komisi D DPRD dalam waktu dekat akan mengklarifikasi kegagalan pengobatan filariasis tersebut.

Surat undangan kepada Dinas Kesehatan, katanya sudah dilayangkan untuk kali kedua. Pemanggilan pertama tidak membuahkan hasil, karena Kepala Dinas Kesehatan maupun utusanya tidak hadir.

klarifikasi kedua akan dilaksanakan pada Jumat. Jika pihak Dinas Kesehatan tidak juga hadir, pihaknya akan tetap membuat nota komisi.

Komisi D sudah melakukan investigasi di lapangan terkait akibat pascaminum obat filariasis, dengan kesimpulan tetap berpangkal pada sosialisasi dan pelaksanaan yang kurang optimal.

Menyinggung soal anggaran sosialisasi pengobatan filariasis Rp 2,1 miliar, Komisi D DPRD Kabupaten Bandung menilai tidak jelas penggunaannya.

Karena itu, jika ternyata Dinkes tidak datang, maka Komisi D akan membuat nota komisi yang berisi baik soal sosialisasi maupun pelaksanaan pemberian obat dan sekaligus menyangkut anggaran yang tidak jelas itu.

Komisi D juga menurut Arifin, menyoroti soal pengobatan yang dilakukan secara massal. Seharusnya, pengobatan dilakukan secara gradual atau bertahap.

Untuk ke depan, ia menyarankan pemberian obat secara bertahap di 31 kecamatan, karena tidak bisa dipungkiri, kegagalan pengobatan massal yang berefek pada jatuhnya korban jiwa akan menimbulkan trauma di kalangan masyarakat.

"Bukan hanya masyarakat yang trauma, termasuk petugasnya sendiri, karena petugas juga tidak ingin disalahkan mengingat mereka bekerja secara sukarela," kata Arifin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau