BANDUNG, KOMPAS.com - Sebanyak 60 persen dari 475 perguruan tinggi swasta di Jawa Barat dan Banten mengalami krisis, sulit menjaring calon mahasiswa baru. Perguruan-perguruan tinggi swasta yang terancam kolaps ini dianjurkan melakukan merger.
"Sepertiga dari PTS yang sekarat ini hanya memiliki mahasiswa kurang dari 100 orang. Bisa kita bayangkan betapa sulitnya kondisi PTS saat ini," tutur Budi Djatmiko, Ketua Bidang Organisasi Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Jabar - Banten dalam Seminar Peduli dan Upaya PTS dari Keterpurukan, Kamis (19/11) di Universitas Widyatama.
Kebijakan perguruan tinggi negeri yang meningkatkan kapasitas penerimaan mahasiswa baru ditudingnya menjadi penyebab utama keterpurukan PTS ini. "Sekarang PTN sudah seperti supermarket. Berbagai macam dibuka, sampai kursus," katanya.
Ia mencontohkan, beberapa tahun lalu Universitas Islam Sunan Gunung Djati hanya menerima 1.500 mahasiswa, namun kini mencapai 8.000 mahasiswa baru. Begitu juga, Institut Teknologi Bandung dan Universitas Padjadjaran.
"Padahal, PTN ini mestinya lebih untuk mengejar kelas dunia, program S2, S3 dan yang khas diperbanyak. Biarkan program umum seperti bidang sosial yang bermodal rendah, kami (PTS) yang membukanya," tutur Budi sambil mengatakan usulan ini sudah disampaikan kepada Menteri Pendidikan Nasional di dalam rapat kerja baru baru-baru ini.
Untuk itu, ia menyesalkan dengan adanya kebijakan akan diubahnya status sejumlah PTS menjadi PTN macam Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, dan Universitas Swadaya Gunungjati, Cirebon. Ia khawatir, ini akan membuat PTS di sekitar nya akan semakin kehilangan daya saing.
Soedarsono dari Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah IV Jabar dan Banten, membenarkan, banyak persoalan yang kini dihadapi PTS. Diantaranya, menurunnya minat akibat gencarnya promosi sekolah kejuruan, lemahnya kemampuan ekonomi masyarakat, dan jenuhnya program studi tertentu macam ekonomi.
Yang disesalkannya, tidak jarang pula terjadi konflik antara yayasan dan pengelola di internal PTS. PTS terpuruk dan sulit dapatkan mahasiswa memang karena tidak jelas pengelolaannya. "Contohnya, kami menemukan ada PTS di mana gedung dan kuliahnya jelas, tetapi tidak tahu pengelolanya di mana. Ada juga yang tidak jelas alamatnya. Seperti ini yang memang harus ditertibkan," paparnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang