MUI Kalbar: Ambil Nilai Positif "2012"

Kompas.com - 20/11/2009, 03:55 WIB

PONTIANAK, KOMPAS.com — Ketua Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Barat Ahmad Zaim mengimbau masyarakat di provinsi tersebut untuk mengambil nilai positif dari film 2012 yang kini sedang dibicarakan oleh banyak kalangan.

"Masyarakat sebaiknya mengambil nilai positif dari film tersebut. Namun, tidak memercayai sepenuhnya karena kiamat termasuk kekuasaan Allah SWT yang manusia tidak bisa menebaknya," kata Ahmad Zaim saat dihubungi di Pontianak, Kamis (19/11).

Ia menyatakan tidak khawatir dengan adanya film itu sehingga harus mengeluarkan fatwa mengenai pelarangan pemutaran atau menonton film tersebut.

"Masyarakat sekarang sudah pintar sehingga bisa membedakan mana fakta dan film yang sifatnya khayalan manusia," kata Ahmad.

Ia mencontohkan, seperti film Rambo yang seolah-olah bisa mengalahkan Vietnam seorang diri. "Begitu juga film 2012," katanya.

Ahmad menambahkan, hingga kini belum ada keluhan umat Muslim terkait film tersebut sehingga tidak ada alasan untuk melarang.

Ia mengimbau masyarakat tidak memercayai sepenuhnya gambaran hari kiamat seperti film di 2012. "Masyarakat tidak boleh percaya 100 persen karena itu sifatnya film dan belum tentu benar karena kiamat termasuk kekuasaan Allah SWT," ujar Ahmad.

Pendapat MUI Kalbar itu berbeda dengan pendapat beberapa MUI yang ada di daerah lainnya. MUI Malang, Jawa Timur, sudah mengeluarkan pelarangan tersebut. Sementara itu, ulama di Nanggroe Aceh Darussalam juga meminta pemerintah melarang beredarnya film tersebut karena mempertimbangkan akan menimbulkan keresahan dan kesesatan di tengah-tengah masyarakat.

Sementara itu, Manajer 21 A Yani Mega Mall Pontianak Mustafa Kamal menyatakan, minat masyarakat cukup tinggi untuk film 2012.

Ia memerkirakan, masa edar film 2012 melampaui penikmat film Ayat-ayat Cinta.

"Kalau Ayat-ayat Cinta pemutaran di 21 A Yani Mega Mall Pontianak sekitar satu bulan. Namun, 2012 mungkin lebih lama dari itu," katanya.

Salah satu pemicunya, film karya sutradara Roland Emmerich itu tidak terpaku pada golongan, suku, negara, atau agama tertentu. Selain itu, batasan umur bagi penontonnya juga tidak ketat.

Film 2012 yang menghabiskan dana Rp 1,88 triliun atau 200 juta dollar AS menampilkan bumi yang hancur karena terjadi pergeseran kutub magnet bumi. Berbagai bencana pun melanda bumi, mulai dari gempa dahsyat, gunung meletus, hingga tsunami. Orang yang memercayai datangnya hari akhir pasti ngeri membayangkan kehancuran bumi.

Film berdurasi 158 menit itu sukses menghadirkan kengerian kala bumi hancur dengan spesial efek yang menakjubkan.

Eiva Rade (30), salah seorang penonton, mengaku takjub dengan teknik pembuatan film tersebut. "Lebih-lebih lagi ditambah dengan unsur-unsur pendukung, seperti teori-teori tentang gempa bumi yang memang sekarang kerap terjadi, membuat yang menonton seolah-olah merasa film tersebut seperti nyata," kata Eiva Rade, yang tinggal di Jalan Tanjung Raya, Pontianak Timur, itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau