Jangan Abaikan Kondisi Individu

Kompas.com - 20/11/2009, 07:38 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengobatan filariasis tidak boleh sembarangan dan harus dilakukan dengan tingkat kehati-hatian tinggi serta perbedaan kondisi individu tidak bisa diabaikan. Dengan adanya korban meninggal, pelaksanaan pengobatan itu sudah sepatutnya dievaluasi.

Sejumlah warga penerima program pengobatan massal filariasis pada 10 November 2009 di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, meninggal dunia.

Pengobatan massal itu menggunakan diethylcarbamazine citrate (DEC), albendazole (obat cacing), dan parasetamol. Dosis DEC diberikan berdasarkan umur. Warga di atas 14 tahun mendapat tiga tablet DEC, per tablet 100 miligram. Anak 6-14 tahun sebanyak dua tablet dan anak 2-5 tahun satu tablet. Komite Ahli Penyakit Filariasis Indonesia mengumumkan, kematian lima warga di Kabupaten Bandung tidak ada kaitan dengan obat filariasis, melainkan karena serangan jantung dan stroke.

”Eradikasi filariasis penting, tetapi jangan lupa bahwa pemberian obat tidak dapat mengabaikan kondisi individu. Tidak cukup dengan mengikuti prosedur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang digunakan di berbagai negara,” ujar farmakolog Universitas Gadjah Mada, Iwan Dwiprahasto, Kamis (19/11).

Penyelidikan kematian yang bertepatan dengan pengobatan massal itu harus benar-benar akurat, yakni lewat otopsi agar bisa diketahui pasti penyebab kematian, tidak berspekulasi.

Hal senada diungkapkan guru besar Farmakologi Universitas Indonesia, Iwan Darmansjah. Dia mengatakan, kehati-hatian sangat perlu mengingat DEC bukan obat aman lantaran mempunyai efek samping yang banyak. DEC merupakan obat antifilaria yang bekerja membunuh mikrofilaria dan cacing dewasanya.

Dengan adanya efek samping, terutama akibat cacing yang terbunuh, pemberian obat itu harus hati-hati dan perlu dilakukan seleksi penerima obat. ”Pada orang dengan jumlah mikrofilaria tinggi—sekalipun belum menunjukkan gejala klinis—cacingnya mati sekaligus dalam jumlah besar. Itu dapat menyumbat pembuluh darah. Pengurangan dosis dapat meminimalkan efek,” ujarnya.

Oleh karena itu, survei menjadi sangat penting. Di daerah yang tingkat infeksi mikrofilariasisnya tinggi pengobatan tidak bisa sembarangan. Kondisi lingkungan juga tidak bisa diabaikan. ”Di daerah yang baru tertimpa bencana alam, seperti gempa, paparan terhadap nyamuk sebagai vektor filariasis jauh lebih besar,” ujarnya.

Iwan berpandangan serupa. Seleksi penerima obat sangat penting. Orang yang lanjut usia, misalnya, harus mendapat obat di bawah pengawasan dan sebaiknya minum di rumah sakit.

Adapun orang dengan penurunan fungsi ginjal, dosis harus disesuaikan (diturunkan) dan diberikan di rumah sakit di bawah pengawasan dokter. Demikian juga orang dengan infeksi sekunder lainnya. Orang dengan penyakit kronis juga tidak diperkenankan minum obat itu.

Peran tenaga kesehatan di lapangan sangat besar. ”Sebagai contoh, tidak mudah mendeteksi perempuan hamil muda karena bisa jadi perempuan itu juga belum tahu dirinya hamil. Kader perlu menanyakan waktu terakhir menstruasi,” ujarnya. (INE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau