Rani Dapat Warisan Kalau.... (2)

Kompas.com - 20/11/2009, 15:36 WIB

KALAUPUN benar Rani istri Nasrudin, meski siri, "Perkawinan itu sah menurut hukum agama, tapi memerlukan saksi. Bila pun benar, kami tidak bisa meniadakan dia. Dia juga berhak atas warisan Nasrudin dan harta gono-gini seperti istri pertama dan keduanya yang mendapat warisan. Antara lain, berhak atas rumah yang mereka tinggali. Saya akan memfasilitasi."

Diungkapkan Andi, sepeninggal Nasrudin, BUMN di mana saudaranya itu bekerja, belum memberi uang santunan kematian, asuransi, dan gaji yang menjadi hak Nasrudin. “Kami sudah mengurusnya, tapi mereka bilang akan bermasalah. Sebab, kasusnya masih berjalan. Mereka bingung akan dicairkan untuk istri pertama, kedua, atau bagaimana?”

Kehidupan dua istri Nasrudin kini juga tidak seperti sebelumnya. “Istri pertama, sih, tidak begitu bermasalah karena pegawai negeri. Sementara istri keduanya, belum dapat pekerjaan. Nah, kehidupan keluarga di Makasar yang semula ditanggung penuh oleh Nasrudin, kini jadi beban saya.”

Sementara soal berubahnya kesaksian Wiliardi Wizard di pengadilan, tutur Andi, tak membuat keluarga besarnya bertanya-tanya. “Apa benar, Wili, seorang komisaris besar, mau ditekan atau mengikuti kemauan penyidik yang pangkatnya di bawah dia?” tanya Andi.

Andi yang berprofesi sebagai pengacara menduga, Wiliardi takut pada pasal yang didakwakan dengan ancaman hukuman maksimal mati atau seumur hidup. Adakah perubahan sikap Wili itu untuk saling meringankan hukuman dengan Antasari?

“Bisa saja. Segala kemungkian ada. Bukankah pengacara AA dan pengacara WW bersaudara? Tapi ingat, publik sekarang sudah pintar. Bisa mencerna mana yang benar dan salah. Soal dukungan publik, jangan berharap banyak seperti dukungan untuk Bibit-Chandra. Apa pula maksudnya istri WW langsung roadshow ke berbagai stasiun televisi? Kalau saya roadshow, wajar, dong, karena saya ingin meyakinkan publik, saya ini saudara korban yang sedang berjuang mencari kebenaran.”

Andi dan keluarga besarnya berharap, di akhir sidang akan ketahuan siapa dalang intelektual di balik pembunuh Nasrudin. “Kami bukan mencari siapa yang harus dihukum.” Ibunda Nasrudin di Makasar pun, sudah tak sabar menunggu siapa dalang pembunuh anak kebanggaannya. “Ibu saya sudah sakit-sakitan, sekarang lebih syok lagi. Menagis terus dan bertanya, apa salah anaknya hingga harus dibunuh, siapa pembunuhnya, dan apa kepentingannya anaknya dibunuh? Sementara Nas, kan, bukan petinggi negara.”

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau