Ketuklah dengan Senyuman

Kompas.com - 21/11/2009, 07:48 WIB

KOMPAS.com - Senyum dan tawa tidak selalu sama. Bila tertawa lebih didasari pada reaksi spontan, maka senyum bisa dijadikan suatu perilaku yang bisa diajarkan. Tapi perlu kejujuran sebelum terlanjur mengumbar senyum yang memuakkan.  

Di depan pintu ruang praktek seorang dokter ada pengumuman. “Pasien dengan gangguan ingatan harap bayar di muka”. Dokter ini jelas mau melucu. Tetapi lelucon yang dipilihnya bisa menyakitkan hati.

Dokter itu mungkin lupa bahwa kebanyakan lelucon menggunakan bahasa lisan sebagai medianya. Dan kenyataan menunjukkan, bahwa bahasa bisa mengundang penafsiran ganda. Karena itu, meski lelucon memang bisa membuat orang tertawa, lelecon juga bisa membuat meringis.
 
Dalam hal inilah lelucon berbeda dari senyuman. Senyuman tidak memerlukan bahasa lisan, dan tidak pernah menyakitkan hati. Lebih jauh, perbedaan dalam menafsirkan maksud bahasa, bisa dilakukan bahkan oleh orang yang sama. Lelucon yang hari ini bisa membuat saya tertawa, besok atau kemarin bisa membuat saya sakit hati.

Lebih Aman
Ketika membaca sebuah lelucon tentang dokter yang memasang pengumuman seperti di atas, saya mungkin tertawa. Pada waktu itu saya benar-benar punya jarak dengan peristiwa yang diceriterakan. Tapi ketika saya kebetulan datang ke tempat praktek dokter karena sedang stress sehingga banyak melupakan janji, lelucon di atas bisa menyinggung perasaan saya.

Saya jadi menganggap dokter itu mata duitan, tidak punya empati terhadap penderitaan pasien. Saya bisa menganggap bahwa lelucon itu sama sekali tidak lucu. Itu sebabnya jauh lebih aman melemparkan senyum dari pada menyapa seseorang dengan kata-kata yang niatnya mungkin melucu tapi hasilnya bisa menyakitkan.

Selain berbeda dari lelucon, senyum juga berbeda dengan tertawa. Orang terutama tertawa sebagai reaksi terhadap kondisi emosional. Tertawa dipicu oleh proses bawah sadar. Dorongan bawah sadar ini bisa muncul tanpa diundang dan juga bisa tetap muncul pada saat dilarang. Mungkin Anda pernah bersusah payah menahan diri untuk tidak tertawa. Anda mengumpulkan semua kekuatan otot wajah agar  tidak terlihat tertawa. Tapi bisa jadi hati Anda tetap tergelitik dan akhirnya tawa Anda toh meledak juga.

Di lain pihak senyum, walaupun kadang-kadang kita menampilkan senyum sebagai reaksi, senyum bisa saja diniatkan. Senyum bisa jadi tingkahlaku bertujuan yang sengaja dilontarkan. Saya pernah melihat seorang bayi berkebangsaan Norwegia yang digendong pengasuhnya. Ketika padanya saya tersenyum, ia membalas. Hatinya bahagia, dan saya juga. Hal ini dimungkinkan karena senyum merupakan bahasa universal. Saya tak perlu paham bahasa Norwegia dan sang bayi tak perlu mengerti budaya Jawa. Hanya dengan senyum,  kita sama-sama bahagia

Latihan Jujur
Perbedaan hakiki antara senyum dan tawa ini mengandung perngertian bahwa senyum bisa dilatih. Orang bisa membiasakan diri untuk tersenyum kepada orang lain. Mereka yang secara sengaja mencoba untuk tersenyum akan mengerti bahwa untuk dapat tersenyum, hati harus merasa senang. Cobalah tersenyum waktu kaki Anda diinjak sepatu lars. Senyum Anda pasti senyum yang palsu. Sama palsunya dengan senyum seorang pramugari yang melayani tanpa tulus hati.

Mungkin juga sama dengan senyum seorang korban perampokan yang dipaksa senyum di bawah todongan senjata. “Ayo senyum, kalau tidak saya tembak kamu”. Senyum-senyum yang terpaksa ini tidak mendatangkan kehangatan kepada penerima senyum dan tidak mendatangkan kegembiraan pada pemberi senyum. Lain halnya kalau kita kalau kita tersenyum dengan hati yang senang, seperti ketika saya bertukar senyum dengan bayi Norwegia itu.

Kenyataan bahwa untuk tersenyum ramah hati harus benar-benar terbuka, membawa banyak akibat positif kepada orang-orang yang mau bersusah payah berlatih tersenyum jujur kepada orang lain. Tanpa dapat dicegah, orang yang sering tersenyum akan memiliki wajah yang lebih ceria, lebih segar tanpa harus memakai krim perawatan kulit. Bukankah lebih asyik memandang wajah bayi yang tersenyum tanpa make-up dari pada menyaksikan juru rawat yang berdandan menor (untuk menutupi jerawat) tetapi melayani Anda dengan wajah masam? Bukankah ketika Anda melempar senyum kepada seseorang Anda tengah menyiapkan suatu jalinan komunikasi yang menyenangkan?

Sekarang, cobalah Anda tersenyum dulu sebelum melanjutkan membaca tulisan ini. … Bayangkanlah peristiwa yang menyenangkan. Bayangkan kesenangan yang Anda terima ketika seseorang melemparkan senyuman. Bayangkan bayi montok Norwegia yang berwajah ceria tersenyum balik kepada Anda. Lalu yakinkanlah diri Anda bahwa senyum itu baik, … juga untuk diri sendiri. Mari kita tersenyum.@jjw

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau