Alexandre Song, Nyanyian Zero to Hero

Kompas.com - 21/11/2009, 21:57 WIB

LAIKNYA pemain yang baru menjejakkan kaki di klub besar, Alexandre Song juga merasa gugup kala datang ke Arsenal. Kejadian itu terjadi pada Juli 2005 ketika drinya bersama pertinggi Bastia, klub yang menjualnya, melakukan finalisasi kontrak dengan"The Gunners".

“Jantungku seperti berdetak 200 kali per menit,” ujar Song. “Betapa kagetnya aku ketika melihat Robert Pires, Thierry Henry, dan Dennis Bergkamp ada di ruang ganti pemain. Aku bisa langsung melihat pemain-pemain yang biasanya kulihat di televisi. Aku sungguh gembira bisa berjumpa dengan pemain-pemain besar seperti mereka. Aku tak bisa melupakan kenangan itu sampai sekarang.”

Bahkan, ketika Henry menyapa dan mengucapkan selamat datang kepadanya, Song hanya mampu membalas dengan senyuman. Melihat wajahnya yang pucat, Dennis Bergkamp pun bertanya, “Apa kamu baik-baik saja?"

“Karena aku tak mengerti bahasa Inggris, aku bertanya kepada Henry apa yang dikatakan Berkamp. Henry mengatakan, Bergkamp mengucapkan selamat datang dan terkesan kehadiranku,” kata Song. “Saat itu juga aku bertanya pada diriku sendiri, ‘Apa yang kau lakukan di sini Alex?’”

Sebuah pertanyaan yang kini sudah berujung pada jawaban. From zero to hero. Mungkin itulah ungkapan yang tepat bagi pemain asal Kamerun ini. Sejak Juli 2005 sampai akhir musim lalu, dia sudah berungkali dihujani kritik. Kritikan yang menganggapnya tak cukup bagus untuk klub sebesar Arsenal.

Namun, musim ini, pemain berusia 22 tahun itu sanggup membuang semua cibiran itu. Peran apiknya sebagai gelandang jangkar di barisan tengah tim asuhan Arsene Wenger sekarang sama sekali tak terbantahkan.

Song mampu memberikan perlindungan bagi para defender dan sempurna, memosisikan diri menahan serangan lawan. Kemampuannya membaca pertandingan yang membuat rekan-rekannya berani untuk mendobrak pertahanan lawan.

Hujan Pujian
“Memang mungkin tak ada satu pun orang yang mengira kalau dia akan berada di level sekarang,” kata manajer Arsenal, Arsene Wenger. “Saya adalah salah satu dari sedikit orang yang meyakini dia bakal hebat. Banyak artikel yang menuliskan dia adalah pemain terburuk yang pernah saya beli. Tapi, lihat nanti, dia akan menjadi salah satu pemain besar.”

Pujian bukan hanya dari Wenger. Kapten Arsenal 1971, Frank McLintock, bahkan bisa melihat kesamaan gaya permainan Song  dengan Peter Storey. Bersama Storey, McLintock berhasil meraih gelar ganda bagi Arsenal, Piala FA dan Liga Inggris musim 1970-71. “Saya yakin Song akan bisa melakukan tugas yang sama seperti Storey lakukan dulu. Storey selalu bertugas sebagai gelandang jangkar dan melindungi barisan pertahanan. Sama seperti Song,” papar McLintock.

Melihat peran vital Song, Wenger pantas  khawatir terhadap datangnya Piala Afrika Januari 2010 nanti. Tenaga Song jelas tak bisa dipakai, karena harus membela negaranya. Tapi, Song coba menenangkan. Dia yakin klub sebesar Arsenal tak akan kesulitan mencari penggantinya untuk sementara. Ada Denilson dan Abou Diaby di sana. Menurutnya, Arsenal yang kehilangan dirinya dan Emmanuel Ebou, akan tetap bisa meretas jejak juara di Premier League.

“Kami tak akan kehilangan terlalu banyak pemain. Karena hanya ada dua pemain asal Emirates di Afrika. Aku yakin Arsenal punya skuad yang mumpuni untuk mengatasi kehilangan ini. Denilson akan mampu menggantikanku. Dia memang cedera sekarang, tapi aku harap dia bisa segera turun bermain dalam beberapa bulan ke depan,” imbuh Song.

Kerendahaan hati dari seseorang Song tampaknya tak hilang sejak dari pertama kali menjejakkan kaki di Arsenal. Sebuah sifat yang identik dengan peran seorang gelandang bertahan hebat. Memberikan ketenangan. Ibarat nyanyian, dia melantunkan lagu "From Zero to Hero

Menikah Muda
SEBAGAI pemain yang berlimpah harta, Alexandre Song tak menjalani hidup seperti kebanyakan pemain muda sepertinya. Di saat pemain seusianya sibuk berganti  pasangan dan hidup dari satu pesta ke pesta lainnya, Song memilih waktu bersama kedua anaknya. Pada usia 22 tahun, Song sudah memiliki dua anak laki-laki, Nolan dan Kaylian. Dia menikah dengan teman masa kecilnya, Olivia, di usia 18 tahun. Kematian ayah di saat Song baru berusia tiga tahun mendorongnya untuk menikah muda.

“Aku kehilangan ayahku di usia tiga tahun. Jadi, aku tahu betapa pentingnya peran ayah bagi seorang anak laki-laki. Ketika aku masih muda, teman-temanku selalu dijemput ayahnya usai pulang latihan. Tapi, aku tak punya siapa-siapa. Kenyataan itu sungguh memengaruhiku,” kenangnya pahit.

Tapi kini sudah berlalu. Dia mengaku sudah memiliki segalanya. Dua anak laki-laki dan seorang istri yang sempurna. Sekarang dia hanya ingin melihat kedua anaknya tumbuh dewasa. “Kini tak ada lagi yang aku inginkan selain melihat keluargaku hidup bahagia. Merekalah yang selalu menjadi sumber inspirasiku,” pungkasnya.

Berkat Paman Rigobert

DITINGGAL sang ayah di usia tiga tahun dan berada di sebuah keluarga besar yang terdiri dari 17 saudara perempuan dan sepuluh saudara laki-laki tentu membuat masa kecil Alexandre Song berada di bawah garis kemiskinan. Beruntung sebuah tangan terulur kepadanya dari seorang pesepakbola tenar Kamerun, Rigobert Song, yang juga merupakan pamannya. Rigobert yang juga ditinggal mati oleh ayahnya saat masih kanak-kanak tentu paham perasaan keponakannya itu.

Melalui Rigobert, Song meretas jala kesukesannnya menjadi pemain sepak bola. Dengan jeli Rigobert mencium bakat keponakannya dan mendidiknya menjadi pemain sepak bola. “Hubunganku dengan paman sangat dekat. Dia memberiku berbagai nasihat kapan pun aku memerlukannya,” jelas Song.

Dia kini bermain bersama di Timnas Kamerun. Awalnya tentu banyak cibiran menghampirinya. Banyak yang mengatakan kalau keberadaannya di timnas karena pamannya dan bukan karena kemampuannya. “Tapi sekarang semua sudah berubah. Orang-orang kini berkata kepada Rigobert, ’Keponakanmu sangat bagus, kami bangga memilikinya dalam tim,'” kata Song.  

Dan kini, generasi sepak bola itu sepertinya akan berlanjut. Anak tertua Song, Nolan, sudah mulai menujukkan bakat sepak bola. “Ketika aku mengajaknya bersepeda, dia langsung menolak dan memilih bermain dengan bola. Tenaganya saat menendang sungguh mengaggumkan. Mungkin itu sudah mendarah-daging di keluarga kami,” bilang Song bangga. (SOCCER)

Biodata
Nama Lengkap: Alexandre Dimitri Song Billong
Jukukan: The Rhino
Lahir : Doula, 9 September 1987
Tinggi/Berat: 185 cm/ 75 kg
Posisi: Devensife midfielder/ centre back
Nomor Kostum: 17
Debut Premier League: Arsenal 2-0 Everton
Debut Timnas: Mesir 4-2 Kamerun, 22 Januari 2008

Karier Klub
2004-06:
Bastia (34 main/0 gol)
2005-06: Arsenal (pinjam) (5 main/0 gol
2006-... : Arsenal (52 main/ 1 gol)
2007: Charlton (pinjam) (12 main/0 gol)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau