Komplotan Pencongkel Spion Manfaatkan Anak Jalanan

Kompas.com - 22/11/2009, 13:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Komplotan spesialis pencongkel spion mobil mewah yang digulung petugas Polsek Metro Kelapa Gading memanfaatkan anak di bawah umur untuk melakukan aksinya. Salah satu pelaku yang tertangkap bernama Mickel diketahui masih berusia 16 tahun.

Mickel adalah pelaku yang terakhir dibekuk petugas. "Terakhir Mickel, tadi malam," ujar Kapolsek Kelapa Gading Kompol Marudut Liberty saat jumpa pers di Kantor Polrestro Kelapa Gading, Minggu (22/11)

Sebelum tergabung dalam komplotan pencongkel spion pedongkelan Mickel menjadi pengamen jalanan. Mickel, yang saat ini mendekam di Polsek Kelapa Gading, bertugas sebagai pencongkel spion atau sering disebut pemetik alias pemain darat. Saat ini, Mickel mengaku sudah tidak bersekolah. Akibat perbuatannya, Mickel akan dilimpahkan ke perlindungan perempuan dan anak (PPA).

Menurut Marudut, pelaku pencurian spion biasanya masih berusia muda, usia tanggung yang tinggal di daerah kumuh. Sebelum menangkap Mickel, petugas Polsek Metro Kelapa Gading berhasil meringkus lima pelaku pencurian kaca spion mobil yang biasa beroprasi di pedongkelan. Mereka adalah Tri Suryono, Mickel, Slamet Chandra, Muhammad Umar, dan Saiful alias Abung.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau