JAKARTA, KOMPAS.com -
Pencapaian target tembus ke laut ini juga termasuk dalam kinerja 100 hari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono. Akibatnya, semua masalah yang masih menghadang, termasuk pembebasan tanah, akan selesai pada awal Desember. ”Saat ini masih ada tujuh titik lahan yang belum dibebaskan. Namun, kini sudah ada kata sepakat. Mudah-mudahan akhir November atau awal Desember semuanya selesai,” kata Fauzi saat meninjau proyek Banjir Kanal Timur (BKT) dari Kebon Nanas, Jatinegara, hingga Marunda, Jakarta Utara, Minggu (22/11). Ketujuh titik itu terletak di Cipinang, Duren Sawit, Bambu Duri, Pondok Kopi (dua titik), Pulo Gebang, dan Ujung Menteng. Total luas lahan yang belum dibebaskan itu hanya sekitar 700 meter persegi. Walau pembangunan lahan basahnya hampir selesai, pembangunan lahan kering masih belum selesai. ”Pembangunan jembatan, pintu air, dan jalan inspeksi diperkirakan selesai akhir tahun 2010,” kata Pitoyo Subandrio, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane. Baik Fauzi maupun Pitoyo mengingatkan, walaupun proyek BKT selesai, bukan berarti Jakarta bebas banjir. ”Proyek ini hanya mengurangi 30 persen risiko banjir di Jakarta. Tetapi, kalau terjadi hujan yang luar biasa besar, air juga akan melimpas dari BKT,” kata Pitoyo. Proyek BKT juga tak akan mematikan lima sungai yang mengalir ke BKT. Kelima kali itu adalah Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Cakung, Kali Buaran, dan Kali Jati Kramat. Kelima sungai itu akan tetap mengalir seperti biasa, hanya debit airnya sebagian dialirkan melalui BKT untuk langsung ke laut. ”BKT akan bertambah fungsinya jika kelima kali ini dan BKT dirawat, tidak dibanjiri sampah yang dibuang warga sembarangan,” kata Fauzi yang terlihat kecewa melihat adanya tumpukan sampah di aliran BKT.