Platini Terinspirasi "Handsball" Henry

Kompas.com - 23/11/2009, 06:45 WIB

NYON, KOMPAS.com - Presiden UEFA, Michel Platini, akan mengusulkan kepada FIFA untuk menambah dua orang wasit untuk memimpin suatu pertandingan untuk meningkatkan kualitas dan kredibilitas pertandingan. Setidaknya, keberadaan tiga wasit akan meminimalisasi pelanggaran fatal, seperti  kasus "Tangan Tuhan" penyerang Perancis, Thierry Henry.

Henry melakukan handsball pada duel antara Perancis dan Irlandia di leg kedua babak play-off kualifikasi Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, Rabu (18/11). Handsball itu membuat Perancis bisa menyamakan kedudukan menjadi 1-1 melalui William Gallas. Karena Perancis menang 1-0 di leg pertama, mereka berhak lolos ke putaran final dengan agregat 2-1.

Kelolosan itu mengundang banyak kecaman. Tak sedikit pula masyarakat Perancis ikut mencerca Henry. Sejumlah tokoh dunia bahkan mendesak FIFA mengulang pertandingan tersebut.

Namun, atas nama peraturan, pertandingan tak bisa diulang. Apa pun yang terjadi di sepanjang laga, tidak bisa diubah bila wasit sudah meniup peluit panjang.

Platini mengerti sikap FIFA. Namun, ia juga tidak bisa menutup mata terhadap protes yang ditujukan kepada timnas negaranya. Karena FIFA menolak penggunaan video atau teknologi lain sebagai dasar pertimbangan wasit di lapangan, Platini menawarkan solusi berupa penambahan dua wasit. Ini akan mengurangi kemungkinan terjadinya pembiaran pelanggaran akibat kelengahan wasit.

"Adalah tugas saya sebagai presiden UEFA dan wakil presiden FIFA untuk membantu wasit melihat segalanya. Itu akan lebih baik. Sistem ini akan lebih adil. Anda akan memiliki dua pasang mata lagi. Itu lebih mudah (untuk melihat semuanya)," ujar Platini.

Namun, solusi yang ditawarkan Platini belum belum bisa diterapkan dalam waktu dekat. Pasalnya, proposal Platini itu baru akan disampaikan kepada FIFA melalui forum Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB), Maret mendatang. Selain itu, proposal ini juga belum tentu mendapat persetujuan.

Sementara itu, seorang juru bicara FIFA mengungkapkan, handsball Henry telah mengundang perhatian luas yang membuat FIFA mempertimbangkan perubahan sehingga ada ruang untuk solusi. Urusan wasit dipastikan akan menjadi agenda penting forum tersebut.

"Bila Anda mendapat dua wasit tambahan, mereka akan melihat (handsball Henry dan pelanggaran lain). Michel Platini akan membantu sistematisasi penggunaan dua wasit tambahan," kata juru bicara itu.

"Perancis telah lolos ke putaran final Piala Dunia. Pertandingan tidak akan dimainkan lagi. Hasilnya valid. Bila tidak, Anda tidak ingin mengulang pertandingan tahun 1996 (insiden "Tangan Tuhan" Diego Maradona). Kalau (laga tahun 1996) diulang, itu akan membuat Anda yang ada di Inggris senang," lanjutnya. (GUA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau