Saksi Mata: Hanya Dalam 15 Menit Kapal Itu Lenyap

Kompas.com - 23/11/2009, 07:40 WIB

KARIMUN, KOMPAS.com — Tragedi tenggelamnya kapal Dumai Express 10 tujuan Batam-Dumai di perairan Tokong Hiu Karimun di ordinat 01 12 500 U dan 103 20 300 T, Minggu (22/11), sementara diduga karena kerasnya hantaman gelombang. Akibatnya, sisi kanan depan kapal terpecah menjadi dua.

"Bagian kanan depan kapal pecah dua," ujar Komandan Pangkalan TNI AL Tanjung Balai Karimun (Danlanal Tbk) Letkol Edwin kepada Tribun seusai dievakuasi di Lanal Tbk.

Menurut saksi korban selamat, Fariz Khairumanah (24), Tomy Gunawan (23), dan Masdianto (29), kejadian ini diawali pecahnya sisi kanan depan kapal yang berada persis di depan bangku yang mereka duduki. Keduanya terperenyak saat mendengar suara keras itu, tak berapa lama bagian depan terlihat sudah terpisah dua. "Saya lihat bagian depan kapal sudah terpisah dua dan saking kerasnya televisi di depan kami sampai terjatuh," ujar Fariz yang diiyakan Tomy di tempat evakuasi di Lanal Tbk.

Hanya dalam hitungan detik, air laut sudah masuk setinggi lutut penumpang. Penumpang yang berada di urutan depan bagian bawah kapal mulai panik. "Saya lihat penumpang tidak sempat lagi ambil jaket (pelampung keselamatan), langsung berhamburan ke bagian belakang kapal," katanya.

Melihat kondisi itu, ketiga pria yang baru saling kenal itu tak mau terlihat panik bagi penumpang lainnya. Dia berusaha tenang dan mengimbau anak-anak dan ibu-ibu didahulukan. "Namun, sayangnya banyak keluarga yang saya lihat pasrah dan diam saja di bangkunya," ungkap Masdianto.

Sekitar lima menit insiden tabrakan terjadi, sekitar 100 penumpang lainnya sudah berada di atas kapal. Sebelumnya ada yang menyelamatkan diri dengan cara melompat melalui jendela yang dipecahkan, ada juga yang masih menunggu dan berharap bantuan segera datang.

"Saya lihat kapal perlahan sudah mulai tenggelam. Saya lihat tak ada satu pun orang yang mau melompat dari atas kapal. Lalu saya berinisiatif menjadi yang melompat pertama, dan untungnya diikuti penumpang lainnya," ujar Fariz.

Inisiatif Fariz patut diancungi jempol. Jika tidak segera melompat dan menjauh dari kapal, korban akan bertambah banyak karena penumpang akan terbawa arus kapal yang akan tenggelam.

"Kalau tidak melompat dan menjauh dari kapal yang sudah nyaris tenggelam itu, saya berpikir ini akan banyak makan korban. Sebab, penumpang pasti akan ikut terbawa arus ke dasar kapal kalau kapal tenggelam. Makanya saya inisiatif lompat paling awal," ungkapnya.

Setelah melompat, Fariz berenang sebisanya. Dalam hitungan 15 menit kemudian seluruh badan kapal menghilang ditelan lautan. Adegan dramatis masih terjadi ketika Fariz harus melihat bayi dan ibu-ibu muda sudah tak bernyawa satu per satu mengapung di depan matanya.

Tak berapa lama bantuan pun datang. Nelayan yang sedang berada di sekitar lokasi kejadian kemudian memberikan pertolongan kepada sejumlah korban. "Mohon sampaikan terima kasih saya kepada para nelayan yang paling berjasa membantu menyelamatkan kami," ujar Fariz dan Tomy lebih lanjut. (msa)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau