JAKARTA, KOMPAS.com — Tahun ini, obligasi—terutama Surat Utang Negara (SUN)—masih jadi primadona. Salah satu indikatornya adalah indeks IDMA Goverment Bond, yang mencerminkan rata-rata harga SUN, menyentuh level tertinggi, 95,24, pada 20 Oktober.
Berarti, harga SUN sudah naik 7,97 persen dari posisi akhir tahun lalu di level 88,21. Otomatis, imbal hasil atau yield obligasi semakin turun dan berbanding terbalik dengan kenaikan harga obligasi.
Mulai mengerutnya imbal hasil obligasi saat ini menyebabkan beberapa institusi keuangan besar berencana mengalihkan investasinya dan memperbesar porsi portofolionya di saham pada tahun depan. Contohnya, PT Jamsostek, yang kini masih berburu obligasi subordinasi perbankan, tapi nanti akan memperbesar porsi portofolio saham dari 16 persen menjadi 18 persen.
"Pada kuartal IV tahun 2009, harga obligasi sudah tinggi sehingga yield-nya semakin rendah," kata Elvyn G Masassya, Direktur Investasi Jamsostek, Minggu (22/11). Dia menambahkan, per akhir September 2009, Jamsostek menikmati return portofolio di saham sebesar 18 persen.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Manulife Asset Management Indonesia Denny Thaher menyatakan, tahun 2010 ekonomi dunia diprediksi membaik dan suku bunga berpeluang kembali naik. Akibatnya, yield obligasi bakal sedikit berkurang. Menurut dia, penempatan investasi di obligasi atau saham sangat bergantung pada karakter dan jangka waktu investasi si investor. "Saya akan lebih fokus ke saham karena ini investasi jangka panjang," ujar Denny.
Adapun analis Universal Broker Indonesia Securities, Andri Zakarias Siregar, menilai, kecenderungan pengalihan dana obligasi ke saham merupakan imbas dari mencuatnya kabar Bank Indonesia akan membatasi kepemilikan asing di surat berharga. "Jadi, investor bisa saja mulai berpikir untuk mengalihkan dananya ke saham," ujarnya.
Namun, Kepala Riset Recapital Securities Poltak Hotradero menilai, portofolio pada instrumen obligasi hingga 2010 tetap masih menarik. "Di obligasi, risiko capital loss jauh lebih kecil," katanya. (Irma Yani, Yuwono Triatmodjo/Kontan)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang