150 Pos Pemantau Hewan Kurban Disiagakan

Kompas.com - 23/11/2009, 22:58 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi Jawa Timur menyiagakan sedikitnya 150 unit pos pemantauan binatang ternak, menjelang Hari Raya Kurban.

"Pos-pos itu kami siagakan untuk memantau binatang ternak yang masuk ke wilayah kami," kata Kepala Disnak Jatim, Tajudin Nur Kadir, di Surabaya, Senin (23/11).

Hal itu dilakukan sebagai tindakan pengawasan terhadap distribusi hewan-hewan kurban baik yang keluar maupun masuk ke wilayah Jatim.

"Ini untuk menjaga agar daging hewan kurban yang dikonsumsi masyarakat, kondisinya benar-benar bebas dari segala macam penyakit," katanya.

Di pos pantau itu petugas akan melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap risiko kesehatan masyarakat terhadap penyakit menular.

"Pembinaan dan pengawasan teknis ini akan terus kami lakukan mulai dari pengangkutan, pemberangkatan ternak dari daerah asal, penampungan hewan, penyembelihan, distribusi, hingga sosialisasi terhadap panitia kurban di masjid maupun musala," katanya.

Untuk merealisasikan program tersebut, Disnak Jatim telah menjalin kerja sama dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jatim, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya, Fakultas Pertanian Jurusan Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, dan petugas penyuluhan peternakan di daerah-daerah.

"Kerja sama ini kami lakukan agar hewan-hewan itu terhindar dari penyakit yang membahayakan, seperti anthrax, brucellosis, distomatosis, dan lain sebagainya," katanya.

Distribusi hewan yang penjagaannya perlu diwaspadai adalah yang berasal dari Jawa Tengah, Bali, dan Madura. Sampai saat ini setiap pekan tercatat 1.200 ekor hewan ternak dari ketiga daerah itu.

"Dengan adanya pemeriksaan yang lebih ketat, hewan-hewan kurban yang disembelih bebas dari penyakit yang bisa menyebabkan infeksi kulit, paru-paru, dan saluran pencernaan," katanya.

Di setiap pos pantau, Disnak Jatim telah menyiagakan dokter hewan dan mantri hewan. Selain itu, petugas yang bersiaga di pos pantau akan memberikan sosialisasi terhadap masyarakat terkait persyaratan halal dan higienis.

Masyarakat diingatkan untuk tetap memperhatikan tata cara pemotongan hewan, baik menurut ajaran agama, maupun faktor kesehatan.

Ia juga meminta masyarakat untuk tidak cemas terhadap kegiatan petugas dalam memeriksa kondisi hewan kurban yang hendak dipotong.

Berdasarkan data di Disnak Jatim, untuk kebutuhan hewan kurban di Jatim mencapai 641.063 ekor. Sementara ketersediaan sapi potong sampai saat ini telah mencapai 710.836 ekor.

Selain menyiagakan pos pantau, Disnak Jatim juga menerjunkan tim pemeriksaan kesehatan hewan kurban yang di Gresik, Sidoarjo, dan Surabaya.

Tim berjumlah 50 orang itu akan melakukan pemeriksaan antimortem pada daerah gigi, suhu tubuh hewan, meraba anus, dan pengecekan selaput lendir serta pemeriksaan postmortem dengan melihat organ dalam tubuh hewan setelah proses pemotongan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau