Menahan Marah di Kantor Bisa Mematikan

Kompas.com - 24/11/2009, 14:27 WIB

KOMPAS.com — Bertumpuknya kewajiban, entah berupa tugas kantor atau ketidakcocokan dengan gaya kepemimpinan atasan, bisa membuat kita tertekan. Bila diabaikan, perasaan tertekan ini semakin menjadi-jadi. Bukan mustahil, akan muncul gangguan kesehatan serius atau kematian gara-gara stres.

Studi terkini yang dilakukan para ahli dari the Stress Research Institute, Stockholm, Swedia, terhadap 2.775 pria bekerja menunjukkan bahwa pekerja yang selalu menekan kekecewaan dan kemarahan mereka ketika diperlakukan tidak adil di kantor berisiko lima kali lebih tinggi mengalami serangan jantung, bahkan meninggal, dibanding mereka yang mengekspresikan kemarahannya.

"Setelah menyesuaikan faktor usia, ekonomi, perilaku berisiko, ketegangan dalam kerja, dan faktor biologi sebagai dasar, kami menemukan hubungan yang erat antara menahan marah dan risiko serangan jantung atau kematian karena jantung mendadak berhenti," tulis para peneliti dalam laporannya.

Pekerja yang yang dikategorikan introvert tersebut memiliki ciri "membiarkan sesuatu berlalu tanpa mengatakan apa pun" dan "pergi menjauh" meski masih ada rasa tidak puas atau beban karena tindakan rekan kerja atau bos.

Mereka yang sering menggunakan teknik menahan diri ini memiliki risiko dua hingga lima kali lebih besar untuk menderita penyakit jantung dibanding dengan mereka yang termasuk dalam kelompok frontal di tempat kerja. Hasil studi ini dipublikasikan dalam The Journal of Epidemiology and Community Health.

Para peneliti memang tidak memberikan jawaban mengenai cara untuk menghadapi stres di kantor. Namun, mereka menyarankan untuk menghadapi konflik secara terbuka, misalnya dengan cara protes secara langsung, bicara dengan atasan atau rekan kerja setelah amarah mereda, hingga berteriak langsung kepada orang yang bersangkutan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau