LONDON, Kompas.com - Juan Martin del Potro memelihara peluang untuk maju ke semifinal ATP World Tour Finals. Unggulan kelima asal Argentina ini meraih kemenangan pada pertandingan keduanya di turnamen akhir tahun tersebut, saat bertarung dengan petenis kidal asal Spanyol, Fernando Verdasco.
Dalam pertarungan berdurasi 2 jam 23 menit tersebut di 02 Arena London, Selasa (24/11), Del Potro menang 6-4, 3-6, 7-6(7/1). Dengan demikian, Del Potro untuk sementara menghuni posisi tiga klasemen sementara Grup A dengan raihan satu kemenangan dan satu kekalahan, sedangkan Verdasco di dasar klasemen karena sudah dua kali kalah.
Pasalnya, pada laga perdananya yang berlangsung Minggu (22/11), Del Potro menyerah 3-6, 6-3, 2-6 dari unggulan keempat asal Inggris, Andy Murray. Kekalahan juga dialami Verdasco ketika bertemu unggulan pertama, Roger Federer. Sempat menang 6-4 di set pertama, pemain kidal asal Spanyol ini akhirnya kalah 5-7, 1-6 di dua set terakhir.
Dengan hasil ini, maka nasib Del Potro akan ditentukan pada pertandingan terakhir Grup A ketika dia melawan Federer. Jika menang atas unggulan pertama yang dikalahkannya pada final AS Terbuka itu, maka dia berhak ke semifinal. Sedangkan bagi Verdasco yang melakukan debutnya di turnamen ini, dua kekalahan yang dialaminya membuat dia hampir pasti tersingkir, meskipun masih punya sedikit harapan ketika melakoni laga pamungkas melawan Murray.
Del Potro mengawali set pertama dengan bagus. Petenis berusia 21 tahun ini sempat membuat satu break, sehingga dia mengambil keuntungan tersebut untuk menyudahi set pertama dengan kemenangan 6-4.
Di awal set kedua, Del Potro dan Verdasco yang untuk pertama kalinya bertemu di ajang ATP World Tour--sebelumnya mereka baru sekali bertemu pada turnamen Segovia Challenger di Spanyol tahun 2006, di mana waktu itu Del Potro menang dalam pertarungan tiga set yang berakhir dengan tie-break--berhasil mengamankan poin ketika memegang servis.
Meskipun demikian, Verdasco sempat berada dalam kondisi kritis di game ketujuh, karena Del Potro sudah unggul 30-0. Tetapi servis keras yang menjadi andalan pemain berusia 26 tahun ini bisa membuatnya keluar dari tekanan sehingga memenangkan game tersebut untuk unggul 4-3.
Pada game kedelapan, Del Potro membuat kesalahan. Forehand yang terlalu panjang membuat game ini di-break oleh Verdasco untuk unggul 5-3, dan selanjutnya unggulan ketujuh ini menutup set kedua dengan skor 6-3 setelah menuai poin di game kesembilan, sekaligus memaksa rubber set.
Pada set ketiga, Del Potro yang memiliki postur jangkung sehingga jago bermain di baseline ini mendapat perlawanan yang sangat gigih dari Verdasco. Tetapi dia bisa mencuri poin di game kedelapan, ketika melakukan break untuk unggul 5-3.
Di game ini, Del Potro yang tahun lalu melakukan debutnya di turnamen akhir tahun ini ketika diselenggarakan di Shanghai, meraih triple break point sebelum Verdasco mempertipis ketinggalannya menjadi 30-40. Ketika terjadi rally, Del Potro mengambil challenge karena merasa bola pengembalian Verdasco keluar. Benar, setelah diputar ulang menggunakan teknologi hawk-eye, bola backhand Verdasco ternyata terlalu panjang. Del Potro pun mengangkat kedua tangannya sebagai luapan kegembiraan karena bisa mem-break game ini untuk unggul 5-3.
Namun di game kesembilan, Del Potro membuang kesempatan manis untuk menyelesaikan pertandingan. Ketika memegang service for the match, juara AS Terbuka 2009 ini justru membuat kesalahan karena forehand-nya memanjang yang membuat Verdasco melakukan break, untuk mengubah kedudukan menjadi 5-4.
Selanjutnya, gantian Verdasco yang melakukan sejumlah kesalahan sehingga Del Potro sempat meraih match point saat deuce. Ketika sudah unggul 40-0, Verdasco gagal menyudahi game ini karena Del Potro bisa menyusul dan memaksa deuce, dan langsung memperoleh adventage. Beruntung, Verdasco bisa menahan dan membalikkan keadaan sehingga meraih poin untuk menyamakan skor menjadi 5-5.
Setelah itu, kedua pemain sama-sama mengamankan poin ketika memegang servis, sehingga pertandingan diselesaikan dengan tie-break. Di sinilah Del Potro menunjukkan dirinya sebagai pemain yang jago bermain di baseline. Setiap bola pemberikan Verdasco bisa dikejar dan dikembalikan, sehingga dia dengan cepat meraih poin sampai unggul 7-1 dan menjadi pemenang laga keras tersebut.
Tahun lalu, Del Potro langsung tersingkir di babak penyisihan grup. Waktu dia kalah dari Novak Djokovic di laga pembuka--petenis Serbia ini yang akhirnya menjadi juara--, kemudian menang atas petenis Perancis Jo-Wildfried Tsonga, sebelum menyerah dari petenis Rusia Nikolay Davydenko.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang