Aksi korporasi

Jakarta Setiabudi Menjual Dua Hotelnya

Kompas.com - 25/11/2009, 04:18 WIB

Jakarta, Kompas - Perusahaan properti PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSPT) berencana menjual dua hotel yang dimilikinya. Sebagian dana hasil penjualan hotel tersebut akan digunakan untuk belanja modal perseroan tahun 2010.

Wakil Presiden Direktur Jakarta Setiabudi Purwo Hari Prawiro dalam paparan publik, Selasa (24/11) di Jakarta, mengatakan, dua hotel yang akan dijual tersebut adalah Hotel Radin Ancol dan Merkuri Resort Sanur.

Dijelaskan, sebagian dari hasil penjualan hotel itu akan digunakan untuk belanja modal perseroan tahun 2010 yang direncanakan sebesar Rp 125 miliar.

Selain untuk belanja modal, menurut Purwo, pelepasan kedua aset tersebut juga untuk meningkatkan kinerja perseroan pada masa mendatang.

Kedua hotel itu dinilai tidak lagi memberikan pendapatan yang signifikan bagi perseroan meski Purwo mengakui, Hotel Radin Ancol dan Merkuri Resort Sanur sebenarnya masih memberikan pendapatan dan keuntungan bagi perseroan.

Namun, lanjut Purwo, tingkat pendapatan yang diharapkan dari kedua hotel itu tidak lagi signifikan.

”Merkuri Resort sebenarnya memiliki kinerja yang baik, hanya saja kontribusinya kurang signifikan,” kata Purwo.

Hotel Formula 1

Terkait dengan belanja modal perseroan sebesar Rp 125 miliar, Purwo menjelaskan, dana tersebut akan digunakan untuk membangun Hotel Formula 1 di kawasan Jalan Thamrin, Jakarta. ”Selain untuk pengembangan Hotel Grand Hyatt, Yogyakarta,” tutur Purwo.

Kedua hotel tersebut, kata Purwo, dibangun dengan konsep hunian.

Menurut Direktur Keuangan Jakarta Setiabudi Merry Liem, pada tahap awal perseroan akan membangun Hotel Hyaat di Yogyakarta dengan anggaran minimal Rp 250 juta per kamar.

Selanjutnya, perseroan akan membangun Hotel Formula 1 pada tahun 2010. Hotel ini berlokasi di Djakarta Theater, Jakarta. Untuk membangun hotel dengan 100 kamar ini perseroan menyediakan dana sekitar Rp 25 miliar.

Selain membangun hotel, PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk juga menjajaki pembangunan superblok.

Superblok ini, menurut Merry Liem, terdiri dari perkantoran, hotel, dan apartemen di kawasan Jakarta Barat. Pembangunan proyek tersebut diharapkan akan berjalan pada 2010.

Hingga triwulan III-2009, perseroan memperoleh laba bersih sebesar Rp 71,4 miliar atau meningkat 98 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2008, yaitu Rp 37 miliar.

PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk didirikan oleh Jan Darmadi tahun 1975. Perusahaan ini berinvestasi di properti dengan mengelola hotel-hotel berbintang, properti komersial seperti gedung perkantoran, apartemen, hunian, di Jakarta, Bali, dan beberapa kota di Indonesia.

Tahun 1998, Jakarta Setiabudi Internasional melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) dan menjadi perusahaan terbuka.

Aset yang dimiliki perseroan saat ini, antara lain, Mercure Convention Centre, Radin Ancol, Hotel Formula 1 Menteng Jakarta, Hotel Formula 1 Cikini Menteng, Plaza Setiabudi Jakarta, Puri Botanical Residence Jakarta, Setiabudi Residence Jakarta, Taman Permata Buana Jakarta, Grand Hyatt Bali, dan Bali Collection. (REI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau