JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih meminta pengelola rumah sakit memperbaiki kualitas pelayanan bagi pasien.
"Sekarang masih banyak keluhan masyarakat tentang rumah sakit yang pelayanannya belum berorientasi pada pasien," katanya pada peringatan Hari Jadi ke-90 Rumah Sakit Umum Pendidikan Nasional (RSUPN) dr Cipto Mangunkusumo Jakarta, Rabu (25/11).
Hal itu, kata dia, antara lain terlihat dari masih banyaknya dokter yang tidak mau mendengarkan keluhan pasien serta memberikan informasi mengenai keadaan pasien, tindakan medis yang akan dilakukan dan konsekuensinya.
"Ada yang beralasan pasiennya banyak. Tapi itu tidak bisa jadi alasan. Pasien harus mendapatkan informasi yang dibutuhkan," katanya.
Ia menambahkan, dokter dan tenaga kesehatan yang tidak menjalankan prosedur standar tersebut justru berisiko menghadapi tuntutan hukum dari pasien. Menteri Kesehatan juga meminta para dokter dan petugas rumah sakit memberikan pelayanan dengan keramahan dan empati kepada pasien.
"Jangan lupa senyum meski hanya beberapa menit. Itu akan sangat membantu," katanya.
Pengelola rumah sakit, kata dia, semestinya mengacu pada standar pelayanan internasional dalam memberikan layanan kepada seluruh pasien.
"Tidak hanya mereka yang dirawat di sayap internasional saja, tapi semuanya, termasuk pasien yang dirawat di ruang perawatan kelas tiga," katanya.
Pengelolaan rumah sakit, dia menjelaskan, juga harus dilakukan secara efisien supaya masyarakat bisa menjangkau biaya pelayanan yang dibebankan kepada mereka.
"Rumah sakit harus bisa memberikan pelayanan prima, efisien dan terjangkau. Saya dengar di sini masih agak mahal, berarti harus diperbaiki lagi supaya biayanya bisa dijangkau semua kalangan," jelasnya.
Berkenaan dengan hal itu, Direktur Utama RSUPN dr Cipto Mangunkusumo Akmal Taher mengatakan pihaknya secara bertahap memperbaiki kualitas pelayanan bagi pasien.
"Kami tidak hanya ingin menjadi national top referal hospital tapi juga world class hospital. Ini bukan rumah sakit bergedung megah yang hanya bisa dimasuki orang-orang berduit, tapi rumah sakit yang bisa menurunkan tingkat kesakitan dan kematian penyakit-penyakit yang sulit ditangani," katanya.
Perjalanan menuju rumah sakit berkelas internasional, kata dia, sudah dimulai sejak beberapa tahun silam. "Untuk manajemen, kami mengikuti ISO, sekarang sudah pegang sembilan ISO," katanya.
Kegiatan riset epidemiologi klinis dan pengembangan obat berbasis bukti, kata dia, juga dilakukan di rumah sakit rujukan nasional itu bekerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga riset medis.
Di samping itu, kata Akmal, pihaknya juga berusaha meningkatkan kualitas staf rumah sakit supaya bisa memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pasien.
"Sejak awal tahun kami menerapkan kebijakan, semua pasien harus dipegang staf rumah sakit, bukan residen. Dulu konsultan paling datang dua atau tiga kali sepekan untuk cek pasien, sekarang mereka harus datang tiap hari. Terus terang ini agak sulit, tapi hasilnya lumayan, sekarang sudah ada kemajuan," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang