Menkes Minta Rumah Sakit Perbaiki Layanan

Kompas.com - 25/11/2009, 18:13 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih meminta pengelola rumah sakit memperbaiki kualitas pelayanan bagi pasien.  

"Sekarang masih banyak keluhan masyarakat tentang rumah sakit yang pelayanannya belum berorientasi pada pasien," katanya pada peringatan Hari Jadi ke-90 Rumah Sakit Umum Pendidikan Nasional (RSUPN) dr Cipto Mangunkusumo Jakarta, Rabu (25/11).

Hal itu, kata dia, antara lain terlihat dari masih banyaknya dokter yang tidak mau mendengarkan keluhan pasien serta memberikan informasi mengenai keadaan pasien, tindakan medis yang akan dilakukan dan konsekuensinya.

"Ada yang beralasan pasiennya banyak. Tapi itu tidak bisa jadi alasan. Pasien harus mendapatkan informasi yang dibutuhkan," katanya.

Ia menambahkan, dokter dan tenaga kesehatan yang tidak menjalankan prosedur standar tersebut justru berisiko menghadapi tuntutan hukum dari pasien. Menteri Kesehatan juga meminta para dokter dan petugas rumah sakit memberikan pelayanan dengan keramahan dan empati kepada pasien.

"Jangan lupa senyum meski hanya beberapa menit.  Itu akan sangat membantu," katanya.

Pengelola rumah sakit, kata dia, semestinya mengacu pada standar pelayanan internasional dalam memberikan layanan kepada seluruh pasien.

"Tidak hanya mereka yang dirawat di sayap internasional saja, tapi semuanya, termasuk pasien yang dirawat di ruang perawatan kelas tiga," katanya.

Pengelolaan rumah sakit, dia menjelaskan, juga harus dilakukan secara efisien supaya masyarakat bisa menjangkau biaya pelayanan yang dibebankan kepada mereka.

"Rumah sakit harus bisa memberikan pelayanan prima, efisien dan terjangkau.  Saya dengar di sini masih agak mahal, berarti harus diperbaiki lagi supaya biayanya bisa dijangkau semua kalangan," jelasnya.

Berkenaan dengan hal itu, Direktur Utama RSUPN dr Cipto Mangunkusumo Akmal Taher mengatakan pihaknya secara bertahap memperbaiki kualitas pelayanan bagi pasien.

"Kami tidak hanya ingin menjadi national top referal hospital tapi juga world class hospital. Ini bukan rumah sakit bergedung megah yang hanya bisa dimasuki orang-orang berduit, tapi rumah sakit yang bisa menurunkan tingkat kesakitan dan kematian penyakit-penyakit yang sulit ditangani," katanya.

Perjalanan menuju rumah sakit berkelas internasional, kata dia, sudah dimulai sejak beberapa tahun silam. "Untuk manajemen, kami mengikuti ISO, sekarang sudah pegang sembilan ISO," katanya.

Kegiatan riset epidemiologi klinis dan pengembangan obat berbasis bukti, kata dia, juga dilakukan di rumah sakit rujukan nasional itu bekerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga riset medis.

Di samping itu, kata Akmal, pihaknya juga berusaha meningkatkan kualitas staf rumah sakit supaya bisa memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pasien.

"Sejak awal tahun kami menerapkan kebijakan, semua pasien harus dipegang staf rumah sakit, bukan residen. Dulu konsultan paling datang dua atau tiga kali sepekan untuk cek pasien, sekarang mereka harus datang tiap hari. Terus terang ini agak sulit, tapi hasilnya lumayan, sekarang sudah ada kemajuan," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau