Siswa: Lumayan Stres Om....

Kompas.com - 26/11/2009, 17:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) sejauh ini sesuai rencana yang digulirkan oleh Depdiknas, yaitu Maret 2009. Siswa pun sudah dipersiapkan sejak dini dan secara intensif untuk menghadapi pelaksanaannya.

"Try out mulai intensif dilakukan, karena buat kami hal ini sifatnya untuk menggembleng kemampuan mereka, bahkan kepala sekolah sampai terjun langsung untuk meninjau persiapan mereka sampai ke kelas-kelas," ujar Humas SMA Negeri 3 Jakarta Dra Titi Nurhayati kepada Kompas.com, Kamis (26/11).

Titi menambahkan, setiap hari seusai jam pelajaran, siswa dibekali dengan pendalaman materi selama dua jam setengah. Khusus di hari Sabtu, yang biasanya dijadikan waktu untuk menjalani kegiatan ekstrakurikuler, kini sudah langsung dijatahkan hanya khusus untuk bimbingan belajar siswa.

"Dari tahun ke tahun memang selalu begitu, tetapi anak-anak yang sekarang ini tampaknya lebih serius belajarnya. Saya berharap tahun ini lebih baik lagi hasilnya," ujar Titi.

Stres

Pelaksanaan UN sejauh ini masih sesuai rencana dari Depdiknas, yaitu Maret 2009. Siswa sudah dipersiapkan sejak dini dan secara intensif untuk menghadapi pelaksanaannya.

Eka Indriyanti, siswi SMK Setia Bakti 2, Jakarta Timur, misalnya. Indri mengakui, jadwalnya sejak duduk di kelas tiga kian padat. Dia bilang, sekolah memang menyiapkan siswa kelas III khusus untuk menghadapi UN. Ekstrakurikuler pun ditiadakan.

Pukul 06.30 sampai 13.00 Indri belajar untuk mata pelajaran seperti biasanya. Jika biasanya ia langsung pulang ke rumah, kali ini tidak. Karena sesudah itu, putri sulung pasangan Wati dan Yono yang tinggal di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, ini harus mengikuti bimbingan belajar selama satu jam di sekolah.

"Lumayan stres, Om, belajar melulu," ujar Indri.

Khusus hari Selasa dan Sabtu, lanjut Indri, jam tambahan itu juga harus diambilnya untuk pendalaman materi pelajaran dan latihan soal. Di dua hari tersebut, Indri dan teman-temannya mulai mengikuti jam tambahan sejak pukul 13.00 sampai 16.30.

"Kalau capek dan bosan paling main internet," ujarnya.

Tidak ubahnya Indri, rutinitas Kenny AS pun begitu. Siswa kelas III SMA Ricci I, Jakarta Barat, ini juga punya jadwal tambahan yang padat. Seminggu tiga kali Kenny harus mengikuti pendalaman materi.

Di luar itu, lanjut Kenny, dalam seminggu ia harus empat kali melakukan pertemuan dengan guru pribadinya (private teacher) di rumah. Les tambahan tersebut dilakoninya pada Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat.

"Tiap malam juga mengulang pelajaran, tapi kalau sedang datang malasnya paling cuma setengah jam," tuturnya.

Sekolah terjebak

Menurut guru besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unika Widya Mandala Surabaya Dr Anita Lie, tetap diselenggarakannya UN, apalagi dengan dimajukan jadwal pelaksanaannya, yaitu dari awalnya April menjadi Maret 2010, terlalu dipaksakan.

"Depdiknas terlalu memaksakan, siswa tentu saja stres," ujarnya.

Sebabnya, lanjut Anita, sehubungan dengan UN itu akan dilaksanakan, mulai dari sekolah, guru, pengajar di bimbingan belajar, bahkan sampai orangtua pun menjejali anak didiknya dengan soal-soal tes dan persiapan UN. Padahal sebaliknya, lanjut Anita, hal itu justru membuang waktu dan perhatian yang seharusnya digunakan untuk proses belajar mengajar.

"Semua pihak (sekolah) terjebak dan berubah seperti halnya sebuah bimbingan belajar. Tak ada lagi suasana belajar yang kondusif bagi anak-anak itu," ujar Anita.

Anita mencontohkan dan sekaligus sangat menyayangkan bahwa terkait persiapan UN, rata-rata sekolah menyetop kegiatan ekstrakurikuler bagi anak-anak didik yang akan menghadapi UN.

"Padahal, justru di situlah dinamika mereka menuntut ilmu di sekolah," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau