Pembunuh Model: "Aku Benci Perempuan Pemarah!" (2)

Kompas.com - 26/11/2009, 19:07 WIB

KARENA ingin mengubah nasib, aku pindah ke Jakarta. Selain itu, aku ingin mencari suasana baru. Apalagi, katanya, di Jakarta gampang cari pekerjaan. Yaah, sekalian ingin melupakan masalah di rumah, terutama sikap Mama. Oleh sebab itu, aku bertekad harus berhasil di Jakarta!

Alkisah, tiga bulan lalu aku menginjakkan kaki di Jakarta. Aku berangkat bersama seorang teman, tapi dia melanjutkan perjalanan ke Jawa. Aku dapat kerja di Salon Ivonne, Mangga Besar, melalui koran. Agar lebih keren, kuubah namaku jadi Fa yang artinya matahari terbit. Aku memang ingin mengubah nasibku. Nah, siapa tahu nama baru itu membawa hoki?

Jika pemilik salon bilang aku suka mengambil tamu salon, itu tidak benar. Tamuku sangat baik, mereka tahu aku tidak punya apa-apa di Jakarta. Jadi, ada yang memberi dispenser, magic jar. Kadang mereka suka minta tolong dipotongkan rambutnya malam-malam. Aku enggak tega menolaknya. Akhirnya aku potong rambut di rumah klien. Aku enggak mau ambil lembur di salon karena tidak ada bonusnya. Itu yang membuat bos marah. Tapi aku, kan, mengerjakan di luar jam kerja, malah bukan aku yang menawarkan, tapi klien yang minta.

Jika kemudian aku dianggap sombong atau judes, sebenarnya tidak juga. Mungkin karena aku mengalami perubahan sifat yang drastis. Begitu tinggal di Jakarta, tiap hari aku menangis, padahal sebelumnya aku sangat ceria. Mungkin karena terbebani komitmen harus jadi orang sukses sementara kondisinya tidak memungkinkan. Kadang kusesali, kenapa ke Jakarta, padahal salon di Banjarmasin lumayan sukses. Apa yang sudah ada, malah kutinggalkan.

Belakangan, aku dipecat dari salon tersebut karena menolak pekerjaan. Masak hairstylist disuruh mengerjakan creambath? Harusnya aku, kan, menangani rambut dan make-up. Bukan creambath. Seolah-olah pekerjaanku enggak bagus, padahal aku pernah membantu temanku yang penata rias artis.

Di salon kedua, aku juga enggak cocok. Akhirnya memilih kerja di bank, menawarkan kartu kredit. Ternyata enggak cocok juga karena bukan keahlianku. Tapi siapa yang mau kasih uang kalau enggak kerja?

Sempat cerita
Aku kenal Tia lewat Shanly, seorang model. Shanly mengajakku ke apartemen Tia (Selasa, 3/11). Sejak itu, aku dan Tia saling SMS dan telepon. Senin (9/11) aku kembali ke apartemennya, janjian membahas make-up dan sharing soal baju. Sekaligus kutawarkan Tia ikut casting sebuah majalah remaja. Aku ke sana jam 10.00-11.00, dijemput pembantunya, Aam, di lobi apartemen. Berhubung ingin menyampaikan sesuatu ke Tia, kuminta Aam menunggu di lobi. Saat itu, aku bilang ke Tia, ingin pinjam Rp 600.000 untuk pulang kampung merayakan Idul Adha.

Lama-lama ada pembicaraan yang membuat kami adu mulut. Mulanya aku ingin menggadai HP, tapi dia merespons dengan kata-kata yang membuatku tak senang. Tahu sendiri, aku paling benci melihat perempuan marah. Kupukul tangan kanan Tia. Ketika dia berdiri sambil memaki-maki, kutarik kerah bajunya. Dia melawan dan menepis peganganku. Kemudian Tia lari ke kamar sambil berteriak.

Di kamar, dia mengambil timbangan badan, mau dipukulkan ke aku. Tapi kudului Tia dengan memukul dahinya. Ia terjatuh dan mengeluarkan darah. Kejadiannya begitu cepat, membuatku panik dan kaget karena di luar rencana. Kuguncang-guncang tubuhnya, ternyata masih bernapas, meski sudah ngos-ngosan. Karena takut pembantunya datang, kuseret Tia ke kamar mandi. Darah yang mengucur, kusiram air biar bersih. Sekaligus berharap dia sadar dan tidak meninggal.

Tanpa sadar, kuambil HP dan dompet Tia, meski tidak bertujuan mengambilnya. Aku keluar dari apartemen dan mengunci pintu kamar tersebut. Kunci kamar kukantongi karena enggak sadar. Pada Aam kukatakan, disuruh majikannya menunggu di bawah saja. Setelah kejadian itu, sebetulnya aku sempat cerita ke teman. Mereka kaget, tak menyangka, dan memintaku berdoa agar tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk. (Bersambung....)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau