SOLO, KOMPAS.com — Kegiatan Grebeg Besar dalam rangka Hari Raya Idul Adha 1430 Hijriah yang diselenggarakan Keraton Kasunanan Surakarta, Jumat (27/11), diwarnai insiden keributan antara wartawan yang meliputi kegiatan tersebut dengan petugas keamanan kirab gunungan hasil bumi.
Seorang fotografer, Akbar Nugroho Gumay dari LKBN Antara Solo, bersitegang dengan petugas keamanan bernama Sinto saat akan mengambil gambar iring-iringan kirab yang membawa gunungan hasil bumi menuju Masjid Agung Solo.
Kejadian ini berawal ketika Akbar mengambil gambar dengan menaiki pagar alun-alun setinggi sekitar 1,5 meter, tak dari jauh dari masjid. Akbar, yang setiap tahun saat ada acara Grebeg Besar juga meliput dan mengambil gambar di tempat yang sama, tiba-tiba didekati Sinto dan diminta turun.
"Saya disuruh turun dan dilarang memotret dari situ. Dari atas saya bertanya kenapa disuruh turun, wong biasanya enggak apa-apa. Tiap tahun kalau ada Grebeg Besar saya biasa motret dari situ, lah kok tiba-tiba ini dilarang," kata Akbar yang terlibat adu mulut dengan Sinto.
Karena Akbar tetap bertahan di atas pagar, Sinto kemudian memaksa Akbar turun. Lengan kiri Akbar langsung ditarik Sinto, sedangkan Akbar berusaha menyelamatkan kamera di tangan kanannya.
"Setelah ditarik dari pagar, saya didorong-dorong terus oleh bapak itu. Kemudian datang petugas pengaman yang lain melerai," kata Akbar.
Kejadian ini mengundang kemarahan wartawan yang meliput acara tersebut dan meminta pihak Keraton menyelesaikan masalah ini. Pengageng Keraton Surakarta KP Edi Wirabumi dan KP Satriyo Hadinagoro mengundang wartawan dan Sinto di dalam Keraton.
Baik Edi maupun Satriyo langsung menyampaikan permohonan maaf kepada pers atas peristiwa tersebut. "Terus terang kami sangat malu atas kejadian ini. Karena orang Keraton tidak menggunakan kekerasan. Kami mohon maaf menempatkan orang yang seperti itu untuk bertugas di depan," ujar Edi yang meminta Sinto meminta maaf.
Namun, Sinto yang terlihat enggan meminta maaf kepada wartawan, karena saat diminta minta maaf dia malah mengucapkan kata-kata yang menyulut kemarahan wartawan.
Sinto tidak jadi minta maaf dan tetap merasa benar. "Permintaan maaf dengan cara seperti itu tidak tulus," ujar beberapa wartawan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang