Dilarang Memotret, Wartawan Ribut dengan Keamanan Keraton

Kompas.com - 27/11/2009, 14:09 WIB

SOLO, KOMPAS.com — Kegiatan Grebeg Besar dalam rangka Hari Raya Idul Adha 1430 Hijriah yang diselenggarakan Keraton Kasunanan Surakarta, Jumat (27/11), diwarnai insiden keributan antara wartawan yang meliputi kegiatan tersebut dengan petugas keamanan kirab gunungan hasil bumi.

Seorang fotografer, Akbar Nugroho Gumay dari LKBN Antara Solo, bersitegang dengan petugas keamanan bernama Sinto saat akan mengambil gambar iring-iringan kirab yang membawa gunungan hasil bumi menuju Masjid Agung Solo.

Kejadian ini berawal ketika Akbar mengambil gambar dengan menaiki pagar alun-alun setinggi sekitar 1,5 meter, tak dari jauh dari masjid. Akbar, yang setiap tahun saat ada acara Grebeg Besar juga meliput dan mengambil gambar di tempat yang sama, tiba-tiba didekati Sinto dan diminta turun.

"Saya disuruh turun dan dilarang memotret dari situ. Dari atas saya bertanya kenapa disuruh turun, wong biasanya enggak apa-apa. Tiap tahun kalau ada Grebeg Besar saya biasa motret dari situ, lah kok tiba-tiba ini dilarang," kata Akbar yang terlibat adu mulut dengan Sinto.

Karena Akbar tetap bertahan di atas pagar, Sinto kemudian memaksa Akbar turun. Lengan kiri Akbar langsung ditarik Sinto, sedangkan Akbar berusaha menyelamatkan kamera di tangan kanannya.

"Setelah ditarik dari pagar, saya didorong-dorong terus oleh bapak itu. Kemudian datang petugas pengaman yang lain melerai," kata Akbar.

Kejadian ini mengundang kemarahan wartawan yang meliput acara tersebut dan meminta pihak Keraton menyelesaikan masalah ini. Pengageng Keraton Surakarta KP Edi Wirabumi dan KP Satriyo Hadinagoro mengundang wartawan dan Sinto di dalam Keraton.

Baik Edi maupun Satriyo langsung menyampaikan permohonan maaf kepada pers atas peristiwa tersebut. "Terus terang kami sangat malu atas kejadian ini. Karena orang Keraton tidak menggunakan kekerasan. Kami mohon maaf menempatkan orang yang seperti itu untuk bertugas di depan," ujar Edi yang meminta Sinto meminta maaf.

Namun, Sinto yang terlihat enggan meminta maaf kepada wartawan, karena saat diminta minta maaf dia malah mengucapkan kata-kata yang menyulut kemarahan wartawan.

Sinto tidak jadi minta maaf dan tetap merasa benar. "Permintaan maaf dengan cara seperti itu tidak tulus," ujar beberapa wartawan.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau