Pelestarian

Harimau Sumatera Semakin Terancam

Kompas.com - 28/11/2009, 04:34 WIB

Jambi, Kompas - Populasi harimau sumatera di wilayah hutan Jambi terus menyusut setiap tahun sehingga ancaman kepunahan kini semakin nyata. Perkiraan optimistis, pada tahun 2009 jumlah harimau Sumatera di Jambi paling banyak tinggal 30 ekor.

”Ancaman nyata terbesar terhadap harimau sumatera ini adalah perburuan liar, yang menyuplai penadah di Jakarta. Di samping itu, juga semakin rusaknya habitat asli. Habitat harimau sumatera sudah terpecah-belah” papar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi Didy Wurjanto, Kamis (26/11) di Jambi.

Ia menuturkan, dari perkiraan para ahli, jumlah total harimau sumatera sampai akhir tahun 2009 tidak lebih dari 200 ekor. Padahal, lima tahun lalu di daerah Jambi saja jumlah harimau sumatera diperkirakan ada 100 ekor. Populasi harimau sumatera tersebar di Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Sumatera Barat, dan Jambi. ”Tiap tahun selalu berkurang. Saat ini di Jambi perkiraan optimistis kita ada 20-30-an ekor,” ungkapnya.

Perburuan harimau sumatera, menurutnya, semakin nekat. Tidak hanya harimau yang hidup liar yang diburu, tetapi juga harimau yang hidup di kandang juga menjadi sasaran. Seperti diketahui, Sheila, harimau sumatera di Kebun Binatang Taman Rimbo, Jambi, dibunuh dan dicuri, Agustus lalu. Pihaknya mengaku kesulitan melindungi populasi harimau sumatera dari ulah pemburu liar, di antaranya karena keterbatasan personel satuan polisi hutan reaksi cepat. ”Anggota kami hanya 92 orang, sedangkan wilayah yang diawasi sangat luas,” katanya.

Rusaknya hutan di Jambi yang mencapai sekitar 24.000 hektar per tahun atau 2 persen dari 1,2 juta ha total luas hutan Jambi semakin menekan populasi harimau sumatera. ”Yang seharusnya per tahun bisa lahir 2-3 ekor, tidak bisa terjadi karena induk tidak bisa kawin akibat habitat yang terpecah. Karena kekurangan makan atau minum, anak akhirnya juga mati sendiri,” katanya.

Meski begitu, pihaknya optimistis harimau sumatera di Jambi tidak akan punah. Ini mengingat kepedulian dan kesadaran masyarakat turut melestarikan harimau sumatera semakin tinggi.

“Kalau komitmen konservasi tinggi, kita sisakan hutan alam yang tersisa. Kalau hutan alam rusak atau berubah fungsi, bencana kepunahan itu akan datang,” katanya. (RWN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau