Jambi, Kompas -
”Ancaman nyata terbesar terhadap harimau sumatera ini adalah perburuan liar, yang menyuplai penadah di Jakarta. Di samping itu, juga semakin rusaknya habitat asli. Habitat harimau sumatera sudah terpecah-belah” papar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi Didy Wurjanto, Kamis (26/11) di Jambi.
Ia menuturkan, dari perkiraan para ahli, jumlah total harimau sumatera sampai akhir tahun 2009 tidak lebih dari 200 ekor. Padahal, lima tahun lalu di daerah Jambi saja jumlah harimau sumatera diperkirakan ada 100 ekor. Populasi harimau sumatera tersebar di Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Sumatera Barat, dan Jambi. ”Tiap tahun selalu berkurang. Saat ini di Jambi perkiraan optimistis kita ada 20-30-an ekor,” ungkapnya.
Perburuan harimau sumatera, menurutnya, semakin nekat. Tidak hanya harimau yang hidup liar yang diburu, tetapi juga harimau yang hidup di kandang juga menjadi sasaran. Seperti diketahui, Sheila, harimau sumatera di Kebun Binatang Taman Rimbo, Jambi, dibunuh dan dicuri, Agustus lalu. Pihaknya mengaku kesulitan melindungi populasi harimau sumatera dari ulah pemburu liar, di antaranya karena keterbatasan personel satuan polisi hutan reaksi cepat. ”Anggota kami hanya 92 orang, sedangkan wilayah yang diawasi sangat luas,” katanya.
Rusaknya hutan di Jambi yang mencapai sekitar 24.000 hektar per tahun atau 2 persen dari 1,2 juta ha total luas hutan Jambi semakin menekan populasi harimau sumatera. ”Yang seharusnya per tahun bisa lahir 2-3 ekor, tidak bisa terjadi karena induk tidak bisa kawin akibat habitat yang terpecah. Karena kekurangan makan atau minum, anak akhirnya juga mati sendiri,” katanya.
Meski begitu, pihaknya optimistis harimau sumatera di Jambi tidak akan punah. Ini mengingat kepedulian dan kesadaran masyarakat turut melestarikan harimau sumatera semakin tinggi.
“Kalau komitmen konservasi tinggi, kita sisakan hutan alam yang tersisa. Kalau hutan alam rusak atau berubah fungsi, bencana kepunahan itu akan datang,” katanya.