Siapa yang Takut dengan Beruang?

Kompas.com - 29/11/2009, 04:07 WIB

Oleh: Indahwati Ilustrasi: Distri

Andi lah yang mencetuskan ide tersebut. Bila Billy, anak baru di kampung ini ingin menjadi anggota klub Detektif, ia harus menjalani tes keberanian.

Setelah mengadakan rapat dengan anggota klub lainnya, diputuskan gudang kosong di dekat sawah, tempat yang tepat untuk menguji nyali Billy.

Saat ini para anggota klub Detektif telah berkumpul di gudang. Di hadapan mereka terdapat banyak tumpukan barang, kunang-kunang dalam toples, dan kelelawar hitam dari kertas. Bahkan Andi membawa kerangka manusia yang dilapisi stiker hologram.

”Benar-benar menyeramkan kurasa. Terutama kerangka ini,” Doni cekikikan.

Kerangka itu digantung dengan seutas senar dan bila pintu terbuka ia akan bergoyang oleh embusan angin, seolah-olah kerangka itu berjalan.

Sebuah kaleng berisi kelereng diikatkan pada pintu. Jika pintu terbuka, kelereng-kelereng akan bergulir di lantai. Dalam kegelapan, suara-suara tersebut pasti akan meruntuhkan nyali Billy.

Sebuah kotak disembunyikan dalam tumpukan jerami. Jika Billy ingin menjadi anggota, ia harus membawa kotak tersebut ke pertemuan mereka sebagai bukti telah lulus tes keberanian yang disyaratkan.

PETANG ITU semua anggota, termasuk Billy, berkumpul di markas mereka di rumah Andi.

Hadi, si ketua klub, angkat bicara. ”Billy, jika kamu ingin menjadi anggota kami, besok malam kamu harus ke gudang kosong dekat sawah dan mengambil kotak yang ada di situ, lalu menaruhnya di markas kita. Kamu tahu letak gudang itu?”

”Ya aku tahu,” jawab Billy.

”Ingat, kamu harus pergi sendiri,” celetuk Amir.

”Apa kamu takut pergi ke gudang saat hari sudah gelap?” tanya Hadi.

”Tidak,” sahut Billy cepat. Ia terdiam sejenak. ”Tetapi di dekat situ ada hutan kecil. A…a-a-a-apakah ada beruang di situ?”

Mereka saling berpandangan. Dalam hati mereka tertawa terbahak-bahak.

”Oh, tidak terlalu banyak,” jawab Amir sambil mengedipkan mata ke teman-temannya.

”Kadang-kadang satu atau dua ekor pernah terlihat!”

”Sudahlah,” potong Teddy.

”Tidak akan ada beruang di dalam gudang. Seandainya kamu bertemu dengan seekor beruang pun, kamu pasti cukup pintar untuk mencari jalan keluarnya, kan?”

”Ya, anggota klub Detektif harus pintar,” kata Amir.

”Atau mungkin kamu ingin mundur dari tantangan ini?”

Billy menelan ludah namun ia berkata gagah, ”Oh, aku tidak takut beruang.”

PADA MALAM berikutnya, Billy harus berjalan ke gudang tersebut. Ia harus mengambil kotak yang ada di gudang.

”Dia pasti ketakutan jika melihat kerangka hologram itu,” Teddy cekikikan.

”Aku bertaruh ia pasti lari terbirit-birit.”

Amir menjentikkan ujung jari. ”Hei, mengapa kita tidak mengintip dia? Kita bisa datang lebih awal dan bersembunyi di semak-semak di dekat situ. Kita bisa mengintip lewat jendela gudang.”

”Ide yang bagus!”

Mereka bersorak gembira.

Maka pukul tujuh malam, mereka mengendap-endap ke gudang dan bersembunyi di balik semak-semak.

Menit demi menit berlalu. Namun Billy tidak kelihatan. Mereka mulai tidak sabar, berpikir Billy kehilangan keberanian dan mundur dari tantangan mereka.

Tiba-tiba, kraakkkk! Terdengar bunyi ranting patah terinjak seseorang.

”Ssshhhh... dia datang,” bisik Amir.

Mereka menajamkan mata untuk bisa melihat dalam kegelapan.

Andi melongo ”A-a-a--paa itu?” katanya saat melihat bayangan hitam besar.

Wajah Amir menjadi pucat. ”I-i-i-t-t-tu beruang!” bisiknya panik.

Tentu, itu seekor beruang! Cahaya bulan di langit menerangi tubuh besar berwarna hitam dengan mata berwarna kuning dan mulut terbuka yang menampakkan taring tajam.

Anak-anak berteriak dan lari tunggang langgang meninggalkan tempat persembunyian. Karena panik, mereka saling bertabrakan dan lari tersandung-sandung.

Mereka lari masuk ke dalam gudang dan menggerendelnya dari dalam. Mereka menjatuhkan diri di lantai, dengan napas terengah- engah.

 

BEBERAPA MENIT berlalu. Suasana di luar tampak sepi. Hadi memberanikan diri mengintip ke luar.

”Beruang itu sudah pergi,” bisiknya.

Anak-anak mengembuskan napas lega. Mereka tertawa untuk melepaskan ketegangan. Akhirnya mereka berjalan pulang ke markas.

Mereka melongo ketika menemukan kotak dengan secarik kertas berisi pesan di atasnya. ”Teman-teman, datanglah ke rumahku Sabtu ini. Aku punya beberapa mainan mobil. Salam, Billy.”

Anak-anak saling berpandangan. ”Kukira ia tidak berjumpa dengan beruang itu,” kata Hadi.

 

SABTU BERIKUTNYA, mereka beramai-ramai ke rumah Billy. Ibu Billy menyuruh anak-anak langsung ke kamar Billy. Mereka terkejut melihat seekor beruang duduk di lantai di pojok ruangan.

Dalam cahaya lampu yang bersinar terang, beruang tersebut tampak tidak menakutkan. Bulu-bulunya lembut berwarna coklat tua.

Amir menyenggol beruang itu dengan kaki. Bulu-bulu kotor dan beberapa jerami menempel di dada beruang.

”Ha-ha-ha…,” Amir terbahak-bahak. ”Billy mengelabui kita semua. Ia memakai kostum beruang ini untuk menakut-nakuti kita, dan kita semua lari tunggang langgang!”

”Padahal kita semua ingin mengetes keberanian dan kecerdikan Billy. Ternyata ia sudah membuktikan, ia lebih cerdik dari kita semua!”

”Ah, kalian juga cerdik dan pemberani!”

Mereka menoleh. Ternyata Billy berdiri di pintu.

”Aku bangga menjadi anggota klub kalian!”

”Ha-ha-ha…” Semua tertawa sambil saling berpelukan menyambut anggota baru mereka.

Indahwati Penulis Cerita Anak, Tinggal di Surabaya

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau