Amien: Boediono Harus Ksatria, Jangan Buto Cakil

Kompas.com - 29/11/2009, 17:23 WIB

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Ketua MPR Amien Rais, kembali menyuarakan perlunya penonaktifan Boediono sebagai wakil presiden (mantan Gubernur BI) dan Sri Mulyani sebagai menteri keuangan. Keduanya, diindikasi sebagai pengambil kebijakan yang bertanggungjawab atas pengucuran dana talangan Bank Century sebesar Rp6,7 triliun yang diduga tak memiliki dasar hukum.

Amien menilai, keduanya perlu secara sadar menonaktifkan dirinya dan tidak menjadi beban bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hal itu dikatakan Amien saat menerima inisiator hak angket di kediamannya, Gandaria, Jakarta Selatan, Minggu (29/11) sore.

 

"Alangkah baiknya, saya menganjurkan Pak Boediono dan Mbak Mulyani non aktif agar jangan menjadi beban Presiden. Ini berkaitan dengan unsur trust, orang sudah tidak percaya," kata Amien.

 

Inisiatif nonaktif, menurutnya, harus dilakukan secara sadar oleh Boediono dan Sri Mulyani sendiri. "Pak Boediono harus menunjukkan jiwa kenegarawanan dan menunjukkan seorang ksatria, bukan buto cakil. Semua demi nama baiknya, nonaktif demi memperlancar proses hukum. Seperti kasus Bibit-Chandra, kalau tidak salah ya aktif kembali," ujarnya.

 

Siapapun yang terlibat dalam kasus Century, ditegaskan Amien, tak bisa dimaafkan. Sementara itu, salah satu inisiator hak angket, Maruarar Sirait kembali menegaskan bahwa angket Century tidak untuk menjatuhkan siapapun. "Tetapi, jangan ada juga yang merasa benar sebelum proses hukum dijalankan," kata Maruarar, anggota Fraksi PDI Perjuangan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau