JAKARTA, KOMPAS.com — Laba bersih BNI triwulan III-2009 naik 123 persen dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 1,85 triliun. Perolehan laba didukung oleh peningkatan fee based income 24 persen dan pendapatan bunga bersih 16 persen. ”Tingkat pencadangan menjadi 110 persen dan operasional perusahaan semakin efisien. Bisnis BNI terus tumbuh dengan tetap menjaga kualitas aset,” kata Gatot M Suwondo, Direktur Utama BNI, pada kesempatan paparan kinerja BNI, di Jakarta Senin (30/11).
Sampai triwulan III-2009, BNI membukukan kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 16 persen dari Rp 7,16 triliun pada triwulan III-2008, menjadi Rp 8,31 triliun. Kenaikan pendapatan bunga bersih ini diikuti juga dengan kenaikan fee income sebesar 24 persen dari Rp 2,54 triliun menjadi Rp 3,15 triliun.
Dengan perolehan ini, laba sebelum pencadangan naik sebesar 31 persen dari Rp 4,46 triliun menjadi Rp 5,83 triliun. Sejalan dengan itu, BNI terus memperkuat fundamental keuangan dengan menambah PPAP (provisi) sebesar 7 persen dari Rp 3,26 triliun menjadi Rp 3,48 triliun. Kenaikan laba bersih per saham sebesar 124 persen dari Rp 54 menjadi Rp 121.
Total aset BNI per akhir September 2009 tercatat sebesar Rp 203,10 triliun, atau naik 13 persen dibandingkan posisi akhir September 2008 yang sebesar Rp 179,64 triliun.
Adapun outstanding kredit pada akhir triwulan III-2009 mencapai Rp 122,12 triliun (naik 15 persen) dari Rp 106,42 triliun di akhir triwulan III-2008 lalu. Komposisi kredit masih didominasi oleh kredit usaha kecil dan menengah (UKM) yang mencapai 43 persen, disusul oleh kredit korporasi dan internasional 40 persen, kredit konsumer 15 persen dan pembiayaan syariah sebesar 3 persen.
Di sisi liabilities, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 14 persen dari Rp 143,25 triliun menjadi Rp 163,65 triliun, dengan komposisi 56 persen dana murah (tabungan dan giro) dan 44 persen deposito.
Rasio return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) masing-masing naik dari 0,9 persen menjadi 1,6 persen, dan dari 8,1 persen menjadi 16,2 persen.
Sementara rasio kecukupan modal (CAR) pada level 14,6 persen (setelah memperhitungkan risiko kredit dan risiko pasar). Adapun NPL gross turun dari 6,5 persen menjadi 6,4 persen, tetapi untuk NPL net naik dari 1,1 persen menjadi 1,9 persen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang