Indonesia Butuh Lebih Banyak Peneliti Kesehatan Anak

Kompas.com - 02/12/2009, 17:09 WIB

KOMPAS.com - Bertempat di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia, dan Nutricia Indonesia Fund, menggelar Youth Investigator Meeting. Acara yang digelar dari tanggal 1-3 Desember 2009 ini bertujuan untuk membantu para peneliti kesehatan anak memperkaya diri dalam menyusun serta mempublikasikan hasil penelitiannya di berbagai media (nasional dan internasional). Harapannya, hasil penelitian para peneliti muda ini bisa memberikan kontribusi positif bagi kesehatan nutrisi anak di masa mendatang.

Salah seorang pembicara, Prof Dr dr Sudigdo Sastroasmoro, SpA(K), Konsultan Kardiologi Anak dan Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengatakan, “Pada dasarnya, staf pengajar kedokteran anak memiliki tiga dasar, yakni; pendidikan, pelayanan masyarakat, dan penelitian. Yang masih kurang mendapatkan dukungan adalah penelitian, padahal penelitian ini adalah yang pada akhirnya akan menentukan kesehatan anak di masa mendatang.”

Pada acara ini, tersaring 33 proposal penelitian dari total pengiriman 73 proposal, yang kemudian dibahas dalam sebuah diskusi kelompok akademis. Diskusi tersebut membicarakan mengenai bagaimana cara penataan proposal. Setelah proposal diberi masukan, peneliti harus berlatih cara presentasi di depan para kolega dan dokter ahli luar negeri. Diskusi dibimbing oleh dokter ahli luar negeri yang sudah bekerja sama dengan acara ini sejak tahun 1995, yaitu Prof Hugo S A Heymans (Universitas Amsterdam) dan Prof JB Van Goudouver (Erasmus Medical Center di Rotterdam). Para peneliti lalu diberi bekal agar dapat mencari penyandang dana untuk penelitian mereka.

Acara semacam ini diperlukan mengingat masih banyaknya masalah kesehatan anak yang belum teratasi dan masih butuh penelitian. Padahal, jika ditilik-tilik, masalah kesehatan anak bukan sepenuhnya tanggung jawab dokter anak. Ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi, misalnya gaya hidup anak dan keluarganya, kebersihan air di lingkungan tempat tinggal, hingga masalah pemenuhan pangan. Contoh lain adalah masalah kematian anak di bawah 1 tahun yang belum banyak menunjukkan penurunan angka. Meskipun ada, masih belum signifikan. Atau, masalah kematian ibu saat persalinan yang masih terus terjadi saat ini, dan masih membutuhkan jawaban mengapa belum juga ada angka penurunan.

Dari 33 proposal yang terpilih, ada tiga topik favorit yang ditengarai merupakan masalah utama pada anak saat ini, yaitu masalah nutrisi, obesitas, dan metabolisme anak. Prof Sudigdo menambahkan bahwa hasil yang didapat oleh para partisipan diharapkan mampu menimbulkan daya ungkit (snowball effect) yang kemudian bisa ditularkan ke tenaga-tenaga resident yang bekerja di tempat mereka masing-masing.

Menutup perbincangan, Prof Sudigdo mengatakan, sejak dilaksanakannya workshop ini, dari sekitar 420 staf peneliti yang dimiliki Indonesia, sebanyak 82 orang di antaranya sudah dikirim untuk studi di Belanda. Hal ini untuk mengejar ketertinggalan kita dari negara-negara yang secara umum memang di atas kita, padahal secara kualitas dan jumlah tenaga kita tak kalah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau