GAZA, KOMPAS.com - Seorang pejuang senior Hamas, Rabu kemarin tewas di dalam terowongan yang roboh di Jalur Gaza. "Yasser Sabri Radi (37), seorang komandan lapangan Brigade Qassam dari Kamp Nuseirat di Gaza tengah, mati syahid Rabu pagi ketika menjalankan tugas yang berkaitan dengan jihad," kata juru bicara kelompok Hamas dalam pernyataannya kepada media setempat.
Pernyataan itu tidak menjelaskan penyebab kematian pejuang Hamas tersebut, namun beberapa petugas medis Palestina mengatakan bahwa Radi tewas tertimpa terowongan yang roboh.
Brigade Ezzedine al-Qassam, sayap bersenjata Hamas yang menguasai Jalur Gaza sejak Juni 2007, diyakini menggunakan jaringan terowongan untuk bersembunyi, menyimpan senjata dan melancarkan serangan-serangan.
Pasukan Israel berulang kali membom daerah perbatasan Gaza dengan Mesir sejak mereka memulai serengan pada 27 Desember tahun lalu, dalam upaya menghancurkan terowongan-terowongan penyelundup yang menghubungkan wilayah miskin Palestina itu dengan Mesir.
Angkatan udara Israel membom lebih dari 40 terowongan yang menghubungkan wilayah Jalur Gaza yang diblokade dengan gurun Sinai di Mesir pada saat serangan itu dimulai.
Terowongan-terowongan yang melintasi perbatasan itu digunakan untuk menyelundupkan barang dan senjata ke wilayah Jalur Gaza yang terputus dari dunia luar karena blokade Israel sejak Hamas menguasainya tahun lalu.
Pada Juni 2006, para pejuang dari Hamas dan dua kelompok bersenjata lain Palestina menggunakan terowongan di bawah perbatasan Gaza-Israel dan menyerang sebuah pos militer, menewaskan dua prajurit Israel dan menangkap seorang pajurit ketiga yang hingga kini masih ditahan di Gaza.
Hamas menuntut pembebasan 1.000 tahanan Palestina untuk ditukar dengan prajurit Israel yang ditangkap, yakni Gilad Shalit. Pada 2 Oktober, Israel membebaskan 20 wanita Palestina sebagai imbalan atas sebuah video "bukti hidup" Shalit yang berusia 23 tahun.
Beberapa sumber yang mengetahui negosiasi mengenai pertukaran tahanan mengatakan bahwa Hamas, akan menyerahkan Shalit kepada Mesir, dan Israel membebaskan sekitar 350 hingga 450 tahanan. Beberapa di antaranya akan diasingkan ke luar negeri, bukan kembali ke Tepi Barat atau Gaza.
Tahanan-tahanan lain juga akan dibebaskan ketika Shalit dipindahkan dari Mesir ke Israel, sementara pembebasan lebih lanjut akan diselesaikan dalam beberapa pekan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang