ANKARA, KOMPAS.com - Turki tetap tak mau mengirim pasukan tempur ke Afganistan, kata menteri pertahanan pada Kamis (3/12), sesudah Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyeru sekutu NATO menambah tentara.
"Syarat kami atas tentara Turki terlibat dalam gerakan pertempur tetap," kata Menteri Pertahanan Vecdi Gonul, menurut harian Vatan.
Turki, yang mempunyai jumlah tentara kedua terbesar dari NATO, enggan mengirim tentara untuk tugas tempur di Afganistan, dengan menekankan keperluan melakukan lebih banyak pada membangun kembali prasarana dan memperbaiki layanan di negara terkoyak perang tersebut.
Pada 1 November, Turki mengambil alih kepemimpinan daerah Kabul dari Pasukan Bantuan Keamanan Asing (ISAF) pimpinan persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO selama satu tahun, menambah jumlah tentaranya dari sekitar 900 menjadi 1.750 orang.
Tapi, tidak seperti anggota lain ISAF dari Eropa, tugas Turki terbatas pada ronda dan tentaranya tidak ikut dalam gerakan tempur.
Obama pada Selasa menyatakan akan mengirim 30.000 lagi tentara ke Afganistan dan meningkatkan tekanan pada sekutu NATO untuk menambah tentara, dengan menyatakan mereka juga terancam terorisme berpusat di Afganistan.
Masalah itu diperkirakan tinggi dalam agenda saat Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan bertemu dengan Obama dalam kunjungannya ke Washington pada Senin.
Pemimpin NATO pada Rabu menyatakan anggota persekutuan itu akan mengirim sedikit-dikitnya 5.000 tentara mendukung lonjakan tentara Amerika Serikat, tapi negara utama belum memberi tawaran untuk mendukung.
Turki ditempatkan di Afganistan bergabung dengan ISAF untuk membantu pembangunan dan pemulihan keamanan di negara itu.
Parlemen Jerman pada Kamis memutuskan memperpanjang masa tugas negara itu di Afganistan, kendati Berlin menolak mempertimbangkan tambahan tentara guna mendukung lonjakan baru Amerika Serikat sebelum muktamar antarbangsa pada Januari.
Jerman saat ini menempatkan sekitar 4.300 tentara di Afganistan, penyumbang ketiga terbesar dalam 100.000 tentara asing sesudah Amerika Serikat dan Inggris.
Majelis rendah Bundestag dijadwalkan bersidang sejak pukul 15:30 (21:30 WIB) dan lalu memutuskan perpanjangan tugas selama satu tahun, tapi batas atas jumlah tentara akan tetap 4.500 orang. Parlemen diperkirakan menyetujui perpanjangan masa tugas itu.
Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Rasmussen pada Rabu menyatakan anggota persekutuan itu akan mengirim sedikit-dikitnya 5.000 tentara untuk mendukung lonjakan baru Amerika Serikat berupa 30.000 tentara tambahan, yang diumumkan Presiden Barack Obama pada pekan ini.
Menurut pejabat Perancis, Amerika Serikat meminta Jerman menambah 2.000 lagi tentara, Prancis dan Italia masing-masing 1.500 dan Inggris 1.000.
Inggris berjanji mengirim 500 tentara lagi, tapi sekutu lain di persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO enggan menjawab permintaan Amerika Serikat.
Jerman dan Perancis, keduanya enggan mengirim lebih banyak tentara, menyatakan menunggu muktamar tajaan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Afganistan pada 28 Januari di London untuk memutuskan tindakan lebih lanjut.
"Sebelum muktamar mengenai Afganistan itu dan perbantahan strategis, yang berlangsung dalam muktamar tersebut, pembicaraan tentang jumlah tentara dan kesertaan Jerman tak bijaksana dan tak sesuai," kata Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle pada Rabu.