Wali Kota Yahudi Ditangkap

Kompas.com - 04/12/2009, 05:47 WIB

JERUSALEM, KOMPAS.com - Ketegangan antara warga permukiman Yahudi di wilayah pendudukan Tepi Barat dan aparat keamanan Israel semakin memuncak. Aparat keamanan Israel pun terpaksa menangkap seorang wali kota di permukiman Yahudi itu karena menentang Pemerintah Israel.

Untuk meredakan ketegangan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Kamis (3/12), bertemu dengan para pemimpin permukiman di Tel Aviv itu. Harian Israel, Haaretz, memberitakan Netanyahu menawarkan sejumlah langkah untuk menenteramkan pemukim di Tepi Barat, antara lain pendanaan lebih besar untuk biaya sekolah dan jasa lainnya yang dibutuhkan warga.

Netanyahu menekankan akan menegakkan keputusan pembekuan pembangunan permukiman selama 10 bulan ini sebagai salah satu cara untuk membujuk Palestina berunding.

Namun, Netanyahu sekaligus menjanjikan pembangunan akan diteruskan jika jangka waktu 10 bulan itu habis tanpa ada kesepakatan damai dengan Palestina.

Salah satu pemimpin senior di permukiman, Pinhas Wallerstein, kepada Radio Angkatan Darat, Kamis, menegaskan tidak akan menghentikan konstruksi.

MK Ya’akov Katz, Ketua Partai Persatuan Nasional yang berhaluan kanan, juga bertekad melawan penghentian itu.

Kericuhan di permukiman Beit Arieh merupakan yang paling serius. Konfrontasi sudah berlangsung lima hari di wilayah pendudukan Tepi Barat itu.

Pasukan keamanan Israel menangkap Avi Naim, Wali Kota Beit Arieh, nama sebuah permukiman Yahudi, Rabu (2/12). Naim berusaha menghalang-halangi pasukan keamanan yang akan menghentikan konstruksi di wilayahnya. Akan tetapi, Wali Kota itu kemudian dibebaskan karena mengeluhkan sakit jantung.

Hanya main-main

Atas tekanan AS, Israel mengumumkan moratorium sebagian konstruksi di Tepi Barat. Para inspektur ditugasi untuk menegakkan keputusan. Telah dikeluarkan pula lebih dari 60 surat perintah untuk penghentian konstruksi yang tak memiliki izin. Moratorium itu juga membekukan pemberian izin-izin baru pembangunan perumahan di seluruh Tepi Barat.

Palestina menganggap upaya itu hanya main-main. Masalahnya, sudah telanjur ada 3.000 izin untuk pembangunan rumah, yang kini sudah dalam tahapan konstruksi. Juga sudah ada izin pembangunan beberapa sekolah, sinagoga, dan bangunan nonperumahan. Ini tidak dihentikan lewat moratorium itu.

Keputusan Israel itu pun tidak mencakup pembatasan pembangunan permukiman Yahudi di Jerusalem Timur, yang direncanakan menjadi ibu kota Palestina kelak. Para pemimpin Palestina menuntut pembekuan semua konstruksi sebagai syarat untuk awal perundingan damai.

Penolakan Palestina untuk kembali berunding akan membuat para pemimpin konservatif Israel menghadapi aksi protes kelompok garis keras.

Ketegangan pun meningkat antara Uni Eropa (UE) dan Israel. Ini terkait sebuah rancangan dokumen yang mengecam kebijakan Israel di Jerusalem Timur. UE juga ingin memperkuat klaim Palestina atas kota itu.

Kelompok hak asasi manusia Israel, HaMoked, melaporkan Israel telah mencabut identitas 4.577 warga Palestina di Jerusalem Timur dan berusaha menekan jumlah warga Palestina di kota tersebut.(AP/Reuters/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau