Tolak UN, Ratusan Siswa Bandung Turun ke Jalan

Kompas.com - 04/12/2009, 14:54 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - Ratusan siswa dari berbagai sekolah di Kota Bandung, didampingi para guru, turun ke jalan untuk menolak dijadikannya Ujian Nasional (UN) sebagai penentu kelulusan, Jumat (4/12) di Bandung. Mereka mendesak pemerintah taat hukum dengan mematuhi putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) mengenai UN.

Para siswa yang berjumlah hampir 200 orang ini membentangkan spanduk dan poster yang berisikan penolakan UN. Ada UN = Sengsara, Tidak Ada UN Bahagia, demikian bunyi salah satu spanduk yang dibentangkan oleh siswa. Ada lagi yang berbunyi, Yang Terpenting Proses, Bukan Hasilnya.

"Pemerintah harusnya bisa melihat, selama ini banyak siswa yang stress, depresi, bahkan sampai mengalami ganguan jiwa akibat ujian nasional dan tidak lulus. Tolong jangan jadikan UN sebagai alat penentu kelulusan," teriak Evant Grady (18), salah seorang perwakilan siswa.

Para siswa yang berunjuk rasa itu berasal dari SMAN 4, 6, 9, 12, 19, 20, PGII Bandung, serta SMA Pasundan I Cimahi.

Fridolin Barek dari Koalisi Pendidikan Kota Bandung menuturkan, tindakan pemerintah yang ngotot melaksanakan UN seperti biasanya menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum di negeri ini. Putusan badan peradilan tertinggi di negeri ini, yaitu MA, tidak diindahkan, yang ironisnya dilakukan oleh pemerintah sendiri.

"Bagaimana masyarakat bisa belajar patuh hukum kalau pemerintahnya seperti ini," tuturnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau