KATHMANDU, KOMPAS.com — Perubahan iklim harus menjadi momen yang tetap diingat oleh banyak khalayak. Makanya, demi momentum itulah, kabinet Nepal menggelar rapat di Gunung Everest.
Menariknya, rapat istimewa itu adalah rapat kabinet di tempat tertinggi di dunia. Sebelumnya, Oktober lalu, Maladewa menggelar rapat kabinet di bawah laut. Kedua acara itu merupakan salah satu kegiatan menyambut KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark, sebagaimana ditulis BBC, Jumat (4/12).
Peneliti menyebutkan suhu udara meningkat dengan cepat di Himalaya dibandingkan dengan negara lain di Asia Selatan. Kondisi itu menyebabkan menipisnya salju dan mencairnya gunung es.
Sebelum pertemuan, beberapa tim membawa sejumlah peralatan medis, tabung oksigen, tentara, dan wartawan menuju Kalipatar. Wilayah ini berada di ketinggian 5.200 meter dekat kamp utama Everest.
Sahkan resolusi
Kemudian seluruh 21 menteri kabinet termasuk Perdana Menteri tiba di Kalipatar dengan helikopter. Selama setengah jam pertemuan, para menteri yang sebagian di antaranya mengenakan masker oksigen mengesahkan sebuah resolusi soal perubahan iklim. Kemudian mereka meninggalkan tempat itu dengan helikopter.
Menteri Lingkungan Hakur Prasad Sharma membantah kritikan bahwa pertemuan itu hanya untuk publikasi yang menelan biaya besar. "Kenyataannya bahwa gletser mencair karena pemanasan global. Ini menjadi isu penting dan kami ingin meminta perhatian terhadapnya," ujar Sharma.
Perjalanan ini dibiayai oleh kelompok organisasi swasta Nepal, sebagian besar dari mereka bergerak di sektor pariwisata.
Gunung Everest memiliki puncak tertinggi di dunia, dengan ketinggian puncaknya 8.850 meter di atas permukaan laut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang